|

Pendidikan Seks di SMA D.I. Yogyakarta

Disusun oleh: Stephanie Creagh
Tugas Studi Lapangan
Australian Consortium For In Country Indonesian Studies
(ACICIS) berkerja sama dengan
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
September 2004


Abstract
Today, Indonesia is experiencing an intense period of development, both in terms of economic development and socio-cultural development. One aspect of social change evident in Indonesia is related to sex. Teenagers and young people are changing their attitudes, ideas and behaviour in relation to sex. Amongst these groups, higher rates of pre-marital and high-risk sexual behaviour are being recorded by various NGO’s working in the area of reproductive health. A number of associated social problems have emerged such as high rates of unplanned teen pregnancy, high rates of transmission of Sexually Transmitted Infections including HIV/AIDS, and a general lack of understanding regarding sex. These aspects reveal a lack of an adequate Sexual and Reproductive Health Education program institutionalised across schools of Indonesia.
This Field Study focuses on the school environment as one institution in society that has the opportunity to reach a large proportion of Indonesia’s youth. While a significant number of Indonesia’s youth lie outside the reach of educational bodies (either in the workforce or on the streets), schools have a great role to play in protecting today’s youth – with knowledge.
However, it is evident that few schools are taking advantage of this opportunity and most are providing limited Sexual and Reproductive Health Education. With little support or guidance from the government, schools provide
2
what information they see fit, largely influenced by the religious and societal norms surrounding the school. As a result, Sex Education in Indonesia is limited, with a focus on the biological side of reproductive health, and Abstinence-Only focused lessons.
The process of researching this field study revealed a number of approaches to Sex Education. In some schools, Sexual and Reproductive Health Education was quite limited, while others utilised community resources such as the services of NGO’s to provide a fuller and more rounded program to students.
Students today are, in general, supportive of Sex Education. While significantly more Westernised than their parent’s generation, Indonesian youth of today still hold religious values quite highly. In relation to Sexual and Reproductive Health, the students researched in this field study were keen to have more access to knowledge, provided by schools as a trusted source of information and provided in such a way as to be in harmony with their religious values. If such information was unavailable in schools, youth were likely to go to the mass media (especially the internet and various popular pornographic materials) for such information.
The topic of sex in general is still regarded as somewhat taboo in Indonesia, and is not generally discussed in clear terms. This is an attitude that is changing with time. However, it did hamper my efforts to research this field, as
3
respondents were often nervous or uncomfortable discussing a sex-related topic. Language and other cultural barriers provided challenges to the research of this very brief account of Sex Education in Yogyakarta.
4
Kata Pengantar
Tulisan ini merupakan hasil Studi Lapangan yang diteliti untuk memenuhi keperluan Program ACICIS pada angkatan 19, Semester Ganjil 2004. Studi Lapangan ini diteliti di Daerah Istemewa Yogyakarta, dibawa bimbingan FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada:
• Drs. Rinekso, dosen Pembimbing saya di Universitas Muhammadiyah Malang
• Dra. Tri Sulistyaningsih, kepala Program ACICIS di Fakultas FISIP, Universitas Muhammadiyah Malang,
• Dr Tom Hunter, Resident Director of ACICIS, Yogyakarta
• Mas Roel dan semua sukarelawan di Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia di Yogyakarta, untuk bantuan dan kerjaannya yang luar biasa di bidang Kesehatan Reproduksi
• Dinas PP Yogyakarta
• Kepala Sekolah, guru BK dan HUMAS di semua sekolah diteliti
• Semua responden dan siswa-siswa yang ikuti angket dan diwawancarai
• Keluarga besar Taman Siswa, semua teman-teman dan—
• Dunia kecilku di Kersan: bojoku Bayu, dan Saritem. 5
Daftar Isi
Abstraksi.................................................................................................................2
Kata Pengantar......................................................................................................5
Daftar Isi.................................................................................................................6
Bab 1: Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah........................................................................8
1.2 Rumusan Masalah................................................................................14
1.3 Tujuan Studi Lapangan........................................................................14
1.4 Kegunaan Studi Lapangan...................................................................15
1.5 Metodologi Studi Lapangan.................................................................15
1.6 Hambatan Studi Lapangan...................................................................17
Bab 2: Pendidikan Seks di Ruang Sekolah
2.1 Gambaran Kaum Remaja Indonesia.....................................................18
2.2 Gambaran Lingkungan Sekolah di D.I. Yogyakarta............................19
2.3 Kebijakan Pemerintah R.I. terhadap Pendidikan Seks di Sekolah.......21
Bab 3: Pendidikan Seks di Ruang Sekolah
3.1 Pendidikan Seks di Beberapa SMA D.I. Yogyakarta..........................24
3.2 Norma-norma dan Pendidikan Seks.....................................................26
3.2.i Studi Kasusu 1: ‘Iwan’...........................................................29
3.3 Panduan dan Pedoman Pendidikan Seks..............................................30
6
3.3.i ‘Modul Penyuluhan HIV/AIDS Bagi Siswa SLTA...............31
3.4 Hambatan Pengajaran Pendidikan Seks di Ruang Sekolah..................34
3.5 Studi Kasus 2: Pendidikan Seks di Sekolah Negeri.............................35
3.6 Studi Kasus 3: Pendidikan Seks di Sekolah Katolik............................36
Bab 4: Pendidikan Seks di Luar Ruang Sekolah
4.1 Lingkungan Keluarga...........................................................................39
4.2 Media Massa........................................................................................42
4.2.i Republika...............................................................................45
4.2.ii Internet..................................................................................46
4.2.ii Film.......................................................................................46
4.2.iii Pornografi............................................................................49
4.2.iv MTV Asia............................................................................49
4.2.v World AIDS Day..................................................................50
4.3 Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).........................50
Bab 5: Penutup
5.1 Kesimpulan Dari Hasil Penelitian Studi Lapangan..............................54
5.2 Saran.....................................................................................................55
Daftar Pustaka......................................................................................................57
Lampiran-lampiran.............................................................................................60
7
Bab 1: Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Indonesia saat ini mengalami perkembangan intensif. Globalisasi berdampak negara ini menjadi lebih terbuka menerima teknologi, industri, penanaman modal, maupun ide-ide dan perubahan budaya yang baru. Setelah turunnya Presiden Suharto dan Orde Baru pada tahun 1998, globilisasi disatukan dengan kekuasaan perubahan yang sangat kuat, yaitu gerakan Reformasi. Kemajuan pada tahun-tahun berikutnya makin nyata diperlihatkan dalam bidang pemerintahan, industri, pendidikan dan sosial.
Berdampingan perkembangan adalah perubahan sosial, termasuk sikap-sikap penduduk Indonesia terhadap soal seks. Sejak dulu soal seks menurut kebudayaan Jawa dianggap sebagai sesuatu yang seharusnya ditutupi. Soal ini juga bersifat ketidakadilan ‘gender roles’ (peran gender) pria dan wanita - walau wanita diharapkan melindungi keperawanannya sampai kawin, tak luar biasa untuk pria mengunjungi lokalisasi, baik pra- maupun luar nikah. 1 Dewasa ini, industri seks di Yogyakarta tetap berkembang, dengan beberapa daerah prostitusi yang terkenal seperti Pasar Kembang. Seks itu sudah lama didasarkan dalam ‘hidden culture’ (kebudayaan bersembunyi). Walaupun begitu, penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa perlakukan masyarakat terhadap soal seks sudah mulai
1 Utomo, ‘Sexuality among Jakarta Middle Class Young People’, 1999, page 1
8
berubah. Penduduk Indonesia sudah terbukti mulai melakukan hubungan seks pada umur semakin muda. Hasil penelitian Yayasan Kusuma Buana menunjukkan bahwa sebanyak 10.3% dari 3,594 remaja di 12 kota besar di Indonesia telah melakukan hubungan seks bebas. 2
Tidak mengherankan bahwa perubahan sosial dominan antara kaum remaja. Masa remaja adalah periode yang penuh dengan perubahan tubuh maupun perubahan mental, waktu anak berusia remaja menemukan kesempatan untuk mencoba yang baru. Pada tahun 2000, kaum muda berumur 15 sampai 24 tahun berjumlah 43.3 juta orang, merupakan 21% penduduk. Indonesia3 – sebagian besar masyarakat, yang perlu pendidikan dan bimbingan lengkap demi masa depannya. Saat ini para muda sangat dipengaruhi oleh media massa, termasuk internet, film dan musik. Secara umum, kaum remaja lebih terbuka menerima ide-ide baru, dan lebih intensif mempergunakan teknologi baru untuk mencari informasi daripada orangtuanya.
Sesuatu yang penting di kebudayaan remaja bersekolah adalah gengsi. Fokusnya gengsi untuk remaja Indonesia sering adalah dunia Barat; saat ini, McDonalds dan bintang-bintang MTV telah menjadi idol remaja. Sayangnya, ide-ide dan pengertian kebudayaan Barat maupun pengertian masalah seks yang diambil dari media massa sering keliru, dan memperbersarkan kemungkinan kaum remaja akan melakukan perilaku yang beresiko.
2 Bening,Mei 2004/Vol V. no.01, page 1
3 Utomo, ‘Sexuality among Jakarta Middle Class Young People’, 1999 page 1
9
Dimanapun masalah seks berkaitan dengan banyak masalah sosial, termasuk Penyakit Menular Seksual (PMS), HIV/AIDS, perilaku seksual beresiko, kehamilan pra-nikah dan kekerasan seksual. Jumlah orang HIV+ sedang naik di Indonesia. Masalah HIV/AIDS sudah mulai diperhatikan oleh pemerintah, dengan pengujian darah lebih lengkap untuk kelompok beresiko (seperti pekerja industri seks dan pecandu narkoba suntik). Informasi tentang HIV/AIDS saat ini lebih mudah didapat masyarakat dengan acara umum seperti World AIDS Day. Walaupun begitu, kebanyakan penduduk Indonesia tidak memiliki pengertian dalam tentang HIV/AIDS.
Perilaku seksual beresiko sudah sering terjadi antara remaja Indonesia, yaitu berhubungan seks tanpa kondom dan sering berganti pasangan. Kehamilan pra-nikah sering terjadi, dengan banyak kasus berakibat parah seperti aborsi ilegal yang berbahaya atau ‘Married-By-Accident’. 4 Ketidaktahuan akan hal kontrasepsi dan kecenderungan untuk tidak memakai kondom ditunjukkan hasil penelitian dilakukan berkerjasama oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), United Nations Population Fund (UNPF) and Badan Koordinasi Keluarga Berencana Indonesia (BKKBN). Laporan ini meneliti 227 remaja dari Kupang, Palembang, Singkawang, Cirebon dan Tasikmalaya. Menurut hasilnya, 40,09% responden memakai alat kontrasepsi saat berhubungan seksual, sementara 59,91% tidak memakai alat kontrasepsi (Figure 1).
4 ‘Married-By-Accident’, atau MBA, sering terjadi waktu perempuan dan laki-laki terlibat terpaks menikah oleh keluarganya.
10
Figure 1: Penggunaan Alat Kontrasepsi5
Kekerasaan seksual juga merupakan masalah sosial yang perlu diperhatikan. 99% korban perkosaan adalah wanita yang berumur 10-29 tahun.6
Tetapi, ada hubungan apa antara masalah-masalah sosial tersebut dan Pendidikan Seks? Pendidikan Seks terdiri dari dua segi: pertama, pengetahuan secara biologis, termasuk pengetahuan alat-alat reproduksi perempuan dan laki-laki, proses reproduksi yaitu kehamilan dan kelahiran, dan pengetahuan dan pemahaman cara penularan PMS dan HIV/AIDS. Akan tetapi, sama pentingnya adalah pendekatan sosial/psikologis, yang membahas soal seks, perkembangan
5 ‘Kebutuhan Akan Informasi dan Pelayanan Kesehatan Reproduksi Remaja’, 2001 page 40
6 ‘The Indonesian Youth Population’, Desty Murdijana, 1997, page 8
11
diri, soal kontrasepsi, mengenal perilaku seksual beresiko dan hak-hak manusia untuk keselamatan kita dan keputusan untuk melakukan hubungan seks. Menurut World Health Organisation (Organisasi Kesehatan Dunia), Pendidikan Seks seharusnya tidak terbatas sampai pengetahuan biologis, tetapi berperan untuk melindungi kesehatan dan keamanan masyarakat lewat pendidikan. 7
Ruang sekolah adalah satu fokus studi lapangan ini, sebagai salah satu segi masyarakat yang mampu memberikan informasi seperti Pendidikan Seks kepada sebagian besar penduduk Indonesia. Pada tahun 1996, di perkotaan tingkat kehadiran SMP (Sekolah Menengah Pertama, dihadiri siswa-siswa berumur 13-15 tahun) sejumlah 87.5%, di perdesaan sejumlah 69.2%. Tingkat kehadiran SMA (Sekolah Menengah Atas, dihadiri siswa-siswa berumur 16-18) sejumlah 66.0% di perkotaan dan 34.4% di perdesaan. 8 Karena bangsa Indonesia adalah kepulauan yang luas dan beraneka ragam, tugasnya Badan Pusat Statistis sangat sulit, dan statistis tidak selalu tepat. Ribuan anak berada di luar sistem pendidikan, yang sudah berkerja, tinggal di jalan atau kerja di sawah. Karena itu, hasil penelitian yang dilakukan penulis antara anak-anak bersekolah terbatas dan hanya menggambarkan kedudukan di masyarakat dan rangka ekonomik di posisi menengah ke atas.
Pendidikan Seks sering didampingi ajaran agama, iman dan norma-norma yang ditentukan masyarakat. Materi yang masuk kurikulum atau diajar sekolah
7 ‘School Health Education to Prevent AIDS and Sexually Transmitted Diseases’, WHO, 1992 page 1
8 ‘The Indonesian Youth Population’, Desty Murdijana, 1997 page 2
12
tentu saja dipengaruhi norma-norma masyarakat, dan mencerminkan apa yang masyarakat itu ingin mengajar anak-anaknya. Kebanyakan penduduk Indonesia beragama Islam, lalu Kristen, Katolik, dan Hindu-Buda. Norma-norma yang sesuai dengan agama tersebut memang berada di sistem sekolah, di ajaran maupun sikap-sikapnya orang pemerintahan sekolah.
Studi Lapangan ini dilakukan di kota Yogyakarta. Yogyakarta memiliki status pemerintahan khusus, dinamakan Daerah Istimewa Yogyakarta. DI Yogyakarta diperintah Sultan Hamengkubuwono X, dan sampai sekarang tradisi dan kebudayaan kota ini kuat, terkenal sebagai pusat kebudayaan pulau Jawa. Mungkin karena kekuasaan Sultan (baik di bidang politik maupun kekuasaannya di hal mistis), kota Yogyakarta dianggap kota ‘aman’. Tetapi Yogyakarta terkenal untuk sesuatu lain – yaitu, kebudayaan masa muda yang bersemangat. Suatu kota mahasiswa, Yogyakarta mempunyai ratusan kampus pendidikan tinggi. Oleh karena itu, kebudayaan kos dan kampus ramai dengan acara musik, cafe-cafe, dan fenomena ‘distro’9. Yogyakarta ini adalah lokasi yang sangat menarik untuk penelitian terfokus pada kaum muda.
9 Toko-toko ‘Distro’ berasal dari Bandung sekitar tahun 2000an, sebagai tempat berjualan busana dan musik. Toko-toko Distro telah dibuka di setiap kota besar, dan telah menjadi tempat nongkrong dengan suasana alternatif untuk kaum muda.
13
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas memunculkan beberapa poin yang menarik yang menjadi pokok penelitian ini. Studi lapangan ini terdiri dari permasalahan penting berikutnya:
1) Adakah sikap-sikap apa menghadapi soal seks dan Pendidikan Seks di antara sekolah, agama dan siswa-siswa?
2) Norma-norma apa dipegang oleh responden terhadap soal Pendidikan Seks?
3) Siswa-siswa SMA diajari apa tentang reproduksi sehat di dalam ruang sekolah?
4) Sumber pengetahuan apa tersedia di luar sekolah tentang masalah seks?
5) Akhirnya, dan yang paling penting, Bagaimana pendapatnya siswa-siswa SMA terhadap Pendidikan Seks, dan menurut mereka apa yang penting mereka sendiri diajari?
1.3 Tujuan Studi Lapangan
Dari rumusan masalah diatas dan pokok pembahasan dalam studi lapangan ini, tujuan studi lapangan adalah:
14
• Untuk mengetahui manfaat dan kekurangan sistem pendidikan di SMA DI Yogyakarta;
• Untuk menilai sikap pemerintah dan sekolah SMA DI Yogyakarta atas Pendidikan Seks;
• Untuk menemukan cara memajukan Pendidikan Seks sebagai kebutuhan rakyat Indonesia, dan mengatasi keragu-raguan masyarakat terhadap soal Pendidikan Seks ;
• Untuk menemukan cara terbaik untuk mengadakan pelajaran Pendidikan Seks di sekolah secara resmi.
1.4 Kegunaan Studi Lapangan
Studi lapangan ini semoga bisa digunakan sebagai pedoman yang menunjukkan kebutuhan kaum remaja, dengan kata-kata kaum remaja sendiri. Studi ini mencoba menemukan cara terbaik memasukkan Pendidikan Seks ke ruang sekolah, dan penulis berharap bahwa saran-saran berikutnya bisa diterima demi kepentingan masa depan bangsa Indonesia.
1.5 Metodologi Penelitian
Studi Lapangan dilakukan penulis di Daerah Istimewa Yogyakarta, pada bulan September sampai bulan Nopember tahun 2004.
15
Karena topik terpilih sangat luas dan agak sensitif di Indonesia, studi lapangan ini harus dibatasi dengan batasan tertentu. Untuk mendekati masalah Pendidikan Seks di Yogyakarta, beberapa faktor harus diperhatikan dari mulainya. Masalah seks adalah salah satu topik yang agak tabu di Indonesia, dan memang jelas dari hasil wawancara bahwa setiap orang tidak selalu nyaman dengan subyeknya, baik calon wawancara yang berumur dewasa maupun yang dari kaum remaja.
Studi ini terfokus pada kaum remaja yang bersekolah di kota, yang bertingkat sekolah SMA. Sekolah yang diteliti berada di lima lokasi. Sekolahnya dipilih dari lima aliran sekolah berbeda: satu sekolah dari aliran Islam, Kristen, Katolik, Swasta Nasionalis, dan Negeri pemilihan. Dari pilihan tersebut saya ingin mengevaluasi a) program dan materi Pendidikan Seks yang dilakukan di setiap sekolah; b) sikap-sikap guru dan orang perintahan sekolahnya atas Pendidikan Seks; c) nilai-nilai yang diajari sekolahnya berkaitan dengan soal seks; d) sikap-sikap kaum siswa terhadap soal seks dan Pendidikan Seks; dan akhirnya e) kalau ada perbedaan atau persamaan yang menarik antara sekolahnya.
Pertama, studi ini terdiri dari penilitian yang bersumber pada hasil kwesioner, wawancara, group discussion dan observasi. Saya melakukan kwesioner antara 149 siswa. Untuk mencari jawaban yang lebih lengkap dan dalam, saya mewawancarai beberapa siswa dan guru Bimbingan dan Konseling (BK) di setiap lokasi diteliti. Saya memimpin group discussion antara siswa-siswa 16
atas soal Pendidikan Seks. Saya melakukan observasi pada ruang kelas sekolah SMA, dan mengikuti acara pendidikan seks di Youth Group diadakan LSM Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia.
Kedua, studi lapangan ini meneliti sumber sekonder, termasuk artikel-artikel koran, beberapa pedoman Pendidikan Seks, buku-buku referensi di Perpustakaan PKBI, dan penelitian akademis diterbitkan ahli bidang seksualitas pemuda.
1.6 Hambatan Studi Lapangan
Banyak waktu dihabiskan mengatasi hambatan birokratis. Untuk melakukan penelitian beraktivitas kwesioner dan wawancara di ruang sekolah, surat izin tertentu harus didapat dari DINAS PP (Dinas Perbuatan Pidana, departemen pemerintah yang mengurusi soal penelitian di sekolah), dan dari badan pemerintahan yang memerintah sekolah-sekolah agama dan swasta. Saya juga bertemu dengan HUMAS dan kepala sekolah di setiap lokasi diteliti. Di sekolah saya melakukan penelitian dibawa bimbingan kepala sekolah dan guru Bimbingan dan Konseling.
Studi lapangan juga dihambatkan oleh batasan budaya dan bahasa, khususnya anggapan topik Pendidikan Seks sebagai sesuatu yang tabu dan tidak pantas untuk dibicarakan secara jelas dan terbuka. 17
Bab 2: Pendidikan Seks di Ruang Sekolah
2.1 Gambaran kaum remaja Indonesia
Kaum remaja Indonesia saat ini mengalami lingkungan sosial yang sangat berbeda daripada orangtuanya. Dewasa ini, kaum remaja lebih bebas mengekspresikan dirinya, dan telah mengembangkan kebudayaan dan bahasa khusus antara grupnya. 10 Menurut Utomo, kaum remaja kelas menengah di Jakarta yang diteliti pada tahun 1999 terlihat lebih dibaratkan dalam sikap-sikapnya terhadap busana, musik, film-film, makanan maupun seksualitas. 11 Keadaan kaum remaja di DI Yogyakarta dapat dikatakan mirip dengan keadaan digambarkan Dra. Utomo. Walaupun begitu norma-norma agama masih merupakan soal penting antara kebanyakan remaja diteliti di studi lapangan ini. Soal gengsi dan tekanan teman sebaya dianggap cukup penting antara kaum remaja, sampai orangtua dan guru sekolah khawatir tentang ‘ikut-iktuan’ perilaku tidak sehat12. Sikap-sikap kaum remaja atas seksualitas dan soal seks ternyata lebih liberal daripada orangtuanya, dengan jauh lebih banyak kesempatan mengembangkan hubungan lawan jenis, berpacaran, sampai melakukan hubungan seks.
10 ‘Dugem Apa Perlu?’ Republika, 11 April 2004
11 Utomo, ‘Sexuality among Jakarta Middle Class Young People’, 1999 page 15
12 Hasil Wawancara, Guru BK Sekolah Kristen, tanggal 11 Nop 2004 18
Menurut hasil penelitian yang dilakukan pada tahun 1999 oleh Sahabat Remaja, suatu cabang LSM Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), 26% dari 359 remaja di Yogyakarta mengaku telah melakukan hubungan seks. Menurut PKBI, ‘akibat derasnya informasi yang diterima remaja dari berbagai media massa, memperbesar kemungkinan remaja melakukan praktek seksual yang tak sehat, perilaku seks pra-nikah, dengan satu atau berganti pasangan’. 13 Saat ini, kekurangan informasi yang benar tentang masalah seks akan memperkuatkan kemungkinan remaja percaya salah paham yang diambil dari media massa dan teman sebaya. Akibatnya, kaum remaja masuk ke kaum beresiko melakukan perilaku berbahaya untuk kesehatannya. Dengan 87.5% remaja perkotaan menghadiri SMP dan 66.0% remaja perkotaan menghadiri SMA14, ruang sekolah merupakan satu segi masyarakat yang mampu bertindak memberikan Pendidikan Seks kepada kaum remaja Indonesia.
2.2 Gambaran lingkungan sekolah di D.I. Yogyakarta
Untuk melakukan penelitian studi lapangan ini, saya memilih lima sekolah dengan filsafat dan norma-norma dasar yang lain, termasuk rangka Kristen, Katolik, Negeri, Swasta dan Islam. Sekolah yang didirikan majelis agama memang berperan mendidik siswa-siswanya dengan baik kurikulum resmi maupun suplemen ajaran agama. Sekolah negeri dan sekolah swasta bersifat nasionalis dalam cara pendidikan. Sekolah-sekolah tersebut terpilih dengan
13 Bening,Mei 2004/Vol V. no.01, page 1
14 ‘The Indonesian Youth Population’, Desty Murdijana, 1997, page 2
19
harapan bahwa kesamaan dan perbedaan antara sikapnya dan pendekatannya masalah Pendidikan Seks bisa dinilai dan dibandingkan, dan mencerminkan latar belakang agama atau rangka sosio-ekonomis berbeda.
Meskipun setiap sekolah yang dimasuki didasarkan pada norma-norma berbeda, ada kesamaan penting – yaitu, sifat hubungan antara siswa-siswa dan guru. Saat saya melakukan observasi di beberapa pelajaran, saya melihat tingkat kehormatan tinggi dari siswa-siswa kepada gurunya. Walaupun kehormatan dan kesopanan adalah sifat positif, menurut beberapa siswa diwawancarai, sifat-sifat itu juga menghalangi berakraban siswa-guru. Menurut siswa ini, mereka biasanya merasa malu mendekati guru dengan masalah atau pertanyaan tentang hal seksual, dan takut dipikirkan ‘nakal’. 15
Walaupun begitu, setiap sekolah mempunyai bagian Bimbingan dan Konseling (BK), yang berperan mendampingi perkembangan siswa. Menurut siswa-siswa, guru BK biasanya cukup akrab dengan siswa-siswa, tetapi karena juga berperan memberi konseling disipliner untuk siswa bermasalah, bertemuan guru BK bisa dinodai, atau hanya untuk siswa ‘nakal’16. Guru BK berperan melaksanakan bimbingan dan pendidikan yang berkaitan dengan soal psikologis/sosial dan perkembangan diri. Selain pendekatan psikologis ini, bagaian Pendidikan Seks yang terfokus pada reproduksi masuk bidang studi Biologi. Kesempatan guru BK untuk mencapai tujuan ini terbatas oleh kebijakan
15 Group Discussion, tanggal 11 Nop 2004
16 Group Discussion, tanggal 11 Nop 2004 20
sekolah, demikian setiap sekolah memilih jumlah waktu diberikan BK untuk berkomunikasi tatap muka dengan para siswa.
Lingkungan sekolah juga merupakan kesempatan untuk kaum remaja mengembangkan persahabatan, menghibur, membuat rencana untuk bergaulan luar sekolah, dan mengalami hubungan lawan jenis. Ruang sekolah sering memberi kesempatan kepada remaja untuk mulai berpacaran. Ruang sekolah juga menjadi tempat digunakan untuk saling tukar informasi antara teman sebaya, dan demikian telah terbukti penelitian PKBI, ruang sekolah merupakan tempat tukaran materi pornografi, termasuk VCD, buku dan gambar pornografi. 17 Ternyata di satu pihak, ruang sekolah merupakan suatu lingkungan yang memperkenalkan kaum remaja kepada masalah dan ‘bahaynya’ seks, walau di pihak lain ruang sekolah mampu melindungi kaum remaja dari resiko ini dengan informasi. Fakta-fakta ini memperkuatkan kebutuhan remaja untuk menerima Pendidikan Seks yang mengajar informasi yang benar tentang soal seks.
2.3 Kebijakan Pemerintah RI terhadap Pendidikan Seks di Sekolah
Sampai sekarang, pemerintah Republik Indonesia belum meresmikan persis Pendidikan Seks di ruang sekolah. Cara pengajaran dan materi dipakai untuk mengajar Pendidikan Seks diserahkan kepada setiap sekolah, sesuai dengan keinginan sekolahnya. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Indonesia, atau
17 Bening,Mei 2004/Vol V. no.01, page 5 21
BKKBN, adalah Dinas pemerintah yang bertanggung jawab untuk hal kesehatan reproduksi di Indonesia, termasuk penilaian kebutuhan masyarakat, pengembangan dan mengadakan program kesehatan reproduksi dan keluarga berencana. Meskipun BKKBN berhasil mempromosikan penggunaan alat-alat kontrasepsi dan keluarga berencana sejak tahun 1980an, semua program dalam bidang ini memfokuskan wanita yang sudah menikah dengan tujuan mengurangi jumlah penduduk Indonesia. 18
Di ruang sekolah, kebijakan berkaitan dengan kesehatan reproduksi mulai masuk pada tahun 1980an, dengan tujuan mendidik dan menyadari generasi muda tentang kesehatan reproduksi bertanggung jawab dalam rangka urusan jumlah penduduk. Pada tahun 1997, demi keprihatinan soal HIV/AIDS di Indonesia, membangunkan program pendidikan mengenai HIV/AIDS di ruang sekolah. Tetap menjadi kenyataan, bahwa program-program ini tidak berhasil dimasukkan Kurikulum Nasional.
Menurut studi penelitian dilakukan pada tahun 2000, fokusnya Pendidikan Seks di sekolah-sekolah Indonesia adalah pengetahuan reproduksi seksual secara biologis, daripada masalah seks di konteks sosial. 19 Hubungan seks pra-nikah sama sekali tidak didukung, suatu norma masyarakat yang dicerminkan di rangka sekolahan. Topik mengenai masalah seks yang diajari sekolah SD terfokus pada reproduksi, perbedaan anatomi pria dan wanita, dan perubahaan jasmani pas
18 Utomo, ‘Adolescent and Youth Reproductive Health in Indonesia: Status, Issues, Policies and Programs’ 2003, page 5
19 Smith et al, ‘HIV and Sexual Health Education in Primary and Secondary Schools: Findings from Selected Asia-Pacific Countries’, 2000, page 17
22
pubertas. Di tingkat SMP dan SMA, pendekatan Pendidikan Seks ditambah dengan soal keluarga berencana dan HIV/AIDS. Di pelajaran seperti ini, HIV disebut ‘virus AIDS’, dan sering tak membedakan antara HIV dan AIDS. Pokok-pokok Pendidikan Seks, ‘the ABC’s’ (Abstinence, Be faithful, or use Condoms – Penahanan Nafsu, Kesetiaan, atau memakai Kondom) yang sudah lama didukung WHO bukan diajari sekolah Indonesia, melainkan oleh pendidik pengungjung.
23
Bab 3: Pendidikan Seks di Beberapa SMA D.I. Yogyakarta
3.1 Pendidikan Seks di SMA Yogyakarta
Menurut hasil kwesioner, kelihatanya seakan-akan para siswa diteliti percaya dengan tingkat pemahamannya atas soal Seks. 61.1% siswa setuju bahwa pemahamannya tentang HIV/AIDS cukup tinggi (Lampiran 8). 56.4% setuju bahwa mereka sudah memahami cukup banyak tentang kontrasepsi dan perilaku seksual bertanggung jawab (Lampiran 9). Meskipun begitu, hasil-hasil ini bertentangan dengan komentar yang ditambah di halaman terakhir surveinya. Sebetulnya, siswa-siswa sering berkomentar bahwa mereka tidak tahu cukup tentang HIV/AIDS, perilaku seksual beresiko dan masalah seperti pergaulan bebas dan kontrasepsi. Lagipula, satu siswi yang setuju tingkat pemahamannya atas HIV/AIDS adalah cukup tinggi, bertanya:-
“Apa yang harus dilakukan oleh penderita HIV agar dia dapat sembuh dari penyakit berbahaya itu?”
Rupanya hasil kwesioner yang quantative sering berbeda atau tidak cocok dengan hasil qualitative. Komentar diatas menunjukkan kekurangan pengetahuan dalam atas isu-isu berkaitan dengan seks – siswi ini yakin bahwa HIV/AIDS adalah penyakit berbahaya, tetapi tidak tahu belum ada pengobatan penyakit itu.
24
Setiap sekolah diteliti mengatakan Pendidikan Seks diberikan di bidang studi biologi, dan oleh guru-guru Bimbingan dan Konseling (BK). BK berperan mendampingi para siswa dengan perkembangan diri dan masalah-masalah sosial dan pelajaran. Di satu pihak, guru BK berteman para siswa dan mengasih nasehat dan pembimbing. Di pihak lain, BK juga menjadi ruang untuk mengurusi dan membantu siswa bermasalah pelajaran, termasuk pemberian konseling secara disipliner.
Pendidikan Seks masuk peran BK yang berkaitan dengan soal psikologis sosialis dan perkembangan diri. Semua guru BK diwawancarai setuju bahwa mereka berperan bertindak kalau melihat siswa-siswi yang mulai berpacaran. Kata guru BK di Sekolah Katolik, ‘Kalau kami di sini melihat anak-anak yang sudah mulai pacaran, kami konsultasi untuk memberikan nasehat tentang pacaran sehat.’20 Ide ‘berpacaran sehat’ akan dibahas dibawa dengan penilaian norma-norma dipegang sekolah-sekolah diteliti.
Setiap sekolah mendekati masalah Pendidikan Seks secara beda. Satu sekolah diteliti mengadakan acara mengundang ahli bidang Pendidikan Seks berpidato satu kali setahun. Dan satu sekolah diteliti berkerja sama dengan PKBI dan mengadakan Program Peer Educator. Tetapi, satu kesamaan ada antara semua sekolah. Yaitu, norma-norma dasar berkaitan dengan sikap-sikapnya sekolahan kepada Pendidikan Seks.
20 Hasil Wawancara, Guru BK Sekolah Katolik, tanggal 26 Nopember 2004 25
3.2 Norma-norma dan Pendidikan Seks
Soal Pendidikan Seks berhubungan dekat dengan norma dan nilai masyarakat. Norma-norma agama sangat jelas di bidang ini, berkaitan dengan ajaran terfokus pada penahanan nafsu, dan ajaran resikonya.
Satu pokok ajaran Pendidikan Seks di SMA-SMA diteliti di Yogyakarta adalah penahanan nafsu. Setiap guru diwawancarai mendukung pemantangan diantara para siswa. Peran kuat yang diambil guru-guru untuk mendorong penahanan nafsu dan mendukung pemantangan diantara para siswa. Pendekatan ini sering memakai contoh-contoh ‘bahayanya’ dan ‘resikonya’ berhubungan seks pra-nikah. Misalnya, seorang siswa menjelaskan bahwa ‘kalau pelajaran tentang seks itu mereka [guru BK] selalu bilang kalau seks pra-nikah terjadi bisa merusak masa depan, misalnya kalau cewek kehamilan, pastilah jadi D.O [drop-out] dan masa depannya dihancurkan....’ 21. Menurut seorang siswi lain, penting kaum remaja memperhatikan akibat-akibat aksinya karena ‘cuman berapa menit [seks itu] udah selesai, tapi akibatnya besok parah sekali, seperti kehamilan pra-nikah dan HIV.’22 Contoh-contoh ini menunjukkan kekuatan ajaran ‘bahayanya’ perilaku seks diberikan guru sekolah.
Yang tetap harus dipertanyakan, apakah ajaran penahanan nafsu cukup untuk melindungi kesehatan kaum muda? Menurut penelitian diterbit di Amerika
21 Group Discussion, Sekolah Kristen, tanggal 11 Nopember 2004
22 Hasil Wawancara, Sekolah Islam, tanggal 30 Nopember 2004 26
Selama baru-baru ini, pendekatan Pendidikan Seks yang memfokuskan penahanan nafsu saja (Abstinence-Only approach) tidak berhasil menunda mulainya berhubungan seks antara kaum remaja. Walaupun keadaan di Amerika Serikat memang berbeda dari Indonesia, kenaikan kejadian hubungan seks antara kaum remaja di Indonesia menunjukkan setingkat kesamaan antara kecenderungan kaum remaja, dan kebutuhan untuk pendidikan lebih dalam daripada pengajaran Abstinence-Only.
Satu keadaan yang mencerminkan norma masyarakat di ruang sekolah adalah tanggapan sekolah terhadap kejadian kehamilan pra-nikah. Kehamilan pra-nikah memang terjadi sering saat ini antara kaum bersekolah - setiap siswa diwawancarai mencerita tentang teman sebaya di sekolah atau kampungya yang mengalami masalah ini. Sebenarnya, menurut aturan Departemen Pendidikan Nasional (DEPDIKNAS) perempuan yang kehamilan saat bersekolah harus dikeluarkan. Menurut guru-guru diwawancarai, ada beberapa alasan untuk aturan ini. Pertama, demi kepentingan siswa perempuan – kalau melanjutkan sekolah, akan mengalami suasana tidak enak, dengan banyak gosip. Kedua, ada yang khawatir tentang pengaruh tak sehat – kalau seorang perempuan jelas pernah melakukan hubungan seks, mungkin teman sebayanya akan dipengaruhi dan melakukan ‘ikut-ikutan’. 23 Dan ketiga, perempuan hamil dikeluarkan demi nama sekolahnya. Hal ini sangat tabu, dan dianggap ‘aib’ – yaitu mempermalukan
23 Hasil Wawancara, Guru BK, Sekolah Kristen, tanggal 11 Nopember 2004 27
keluarganya yang terlibat, seterusnya sekolah yang kelihatannya gagal memberikan norma-norma yang kuat kepada para siswanya. 24
Menurut responden diwawancarai dalam studi lapangan ini, agama tetap penting dalam kehidupan remaja Indonesia. Ajaran agama dipakai untuk memperkuatkan Pendidikan Seks dan mengecilkan kemungkinan kaum remaja melakukan hubungan seks pra-nikah. Menurut Dr. Boyke, seorang ahli bidang Pendidikan Seks, ‘iman merupakan rem yang paling pakem dalam berpacaran’. 25 Pendekatan ini dipakai baik di sekolah yang didasarkan pada agama Kristen, Katolik, maupun Islam. Menurut Guru BK di sekolah Katolik,
‘Jelas bahwa iman siswanya kuat,ia tidak akan melakukan seks bebas. Mereka yang punya pegangan budaya dan iman yang cukup kuat selalu akan diingatkan “ini dosa” atau “itu tidak baik”’.26
Para siswa mendukung pemberian Pendidikan Seks yang sesuai dengan agamanya. Misalnya, satu responden kwesioner berkomentar begini:
“Memasukkan ‘sex education’ dalam pendidikan agama (seperti pada pendidikan agama kelas 2), sehingga bisa mengantisipasi ketidaktahuan siswa dan resiko yang mungkin saja ditimbulkan.”. 27
Sikapnya para siswa terhadap agama dan Pendidikan Seks bisa digambarkan studi kasus berikutnya, dari hasil wawancara dengan ‘Iwan’.
24 Hasil Wawancara, Guru BK Sekolah Katolik, tanggal 26 Nopember 2004
25 ‘Seminar Seks dan remaja SMUN Parung’, Republika, 13 Mei 2002
26 Hasil Wawancara, Guru BK Sekolah Katolik, tanggal 26 Nopember 2004
27 Hasil Kwesioner, Sekolah Negeri, dilakukan pada bulan Nopember 2004 (Lampiran 6)
28
3.2.i Studi Kasus 1: ‘Iwan’28
Iwan∗ bersekolah di Sekolah swasta yang didasarkan pada ideologi nasionalisme. Saya mengharapkan bahwa ceritanya Iwan bisa memberi gambaran pendapat dan sikap para siswa berkaitan dengan soal seks dan iman.
Iwan memiliki iman Islam yang sangat kuat, dan walau dia bersemangat mendukung perkembangan negara Indonesia, yang dinomorsatukan siswa ini adalah pengawetan norma-norma agama dalam masyarakat. Pendapat ini sampai sikapnya atas Pendidikan Seks.
Iwan berpendapat bahwa Pendidikan Seks tidak bisa ditutupi seperti dulu. Menurut dia, Pendidikan Seks perlu diberikan sebagai cara perlindungi para siswa, di hal jasmani maupun rohani. Pendidikan ini khususnya dibutuhkan untuk melindungi kaum wanita yang sering dibebankan kesalahan seksual dalam hal seperti kehamilan pra-nikah.
Iwan mengerti hubungan seks sebagai sesuatu yang hanya boleh dilakukan secara resmi, yaitu antara suami dan isteri. Dia menjelaskan bahwa dalam Islam, hubungan seks luar nikah disebut ‘zinah’, dan dilarang oleh ajaran al-Quran. Akan tetapi, Iwan mengaku bahwa pengertian ini telah mulai berubah antara teman sebayanya di kaum remaja. Perilaku seksual pra-nikah sudah terjadi lebih sering, oleh remaja yang berpendapat hal seperti ini boleh dilakukan orang berpacaran
28 Hasil wawancara, ‘Iwan’, Sekolah Swasta, tanggal 26 Nopember 2004
∗ Namanya diganti penulis demi menjaga pendapat pribadi. 29
yang saling mencintai. Di pihak lain, ada yang bersikap ‘enak-enak aja’ dan tidak memikirkan akibat-akibat perilakunya. Menurut dia, satu kaum yang beresiko melakukan hal seperti ini adalah kaum muda yang tinggal di kos, jauh dari orangtua dan jaringan aturan.
Iwan berpikir bahwa Pendidikan Seks seharusnya diberikan semua siswa bersekolah secara dalam dan jelas, supaya mereka sadar atas akibat-akibat perilaku seksual beresiko, seperti PMS, HIV/AIDS dan kehamilan tak direncanakan. Yang penting untuk dia adalah perkembangan cara Pendidikan Seks yang sesuai dengan agamanya dan kebudayaan Indonesia, daripada persis dengan yang diajar di negara-negara Barat.
3.3 Panduan dan pedoman Pendidikan Seks
Saat saya mencari bahan-bahan Pendidikan Seks yang tersedia dipakai di ruang sekolah, saya menemukan kesulitan mencari bahan-bahan yang diterbitkan pemerintah secara resmi. Website-nya BKKBN susah diakses, dan kantor Dinas Pendidikan dan Pengajaran tidak bisa membantu. Oleh karena itu, panduan yang saya akan menilai untuk studi lapangan ini ditarik dari sumber lain. Saya bertemu satu publikasi yang khususnya menarik. Pedoman ini diterbitkan Yayasan Pelita Ilmu.
30
3.3.i ‘Modul Penyuluhan HIV/AIDS Bagi Siswa SLTA’
Yayasan Pelita Ilmu sebagai suatu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sejak tahun 1990 berupaya menyebarluaskan informasi HIV/AIDS bagi siswa SLTA di Jakarta. Diterbitkan sekitar tahun 1997, tujuan panduan ini secara umum adalah ‘untuk menginkatkan pengetahuan, kesadaran, kepedulian dan peran aktif guru serta siswa SLTA dalam upaya penyebarluasan informasi HIV/AIDS sehingga mereka mau dan mampu melindungi diri sendiri agar tidak tertular HIV/AIDS.’ 29
Panduan ini berhasil menjelaskan istilah HIV dan AIDS secara jelas, dan menyuluh gejala-gejala penyakit itu. Termasuk dalam modulnya adalah penjelasan proses kehamilan, alat-alat reproduksi pria dan wanita, penjelasan beberapa Penyakit Menular Seksual seperti Gonorhoea, Sifilis dan Chlamydia. Juga diberikan adalah petunjuk-petunjuk untuk guru yang berperan mengajar modul ini, dengan tekanan pada peran aktif dimiliki guru sekolah sebagai pembimbing dan sumber informasi.
Akan tetapi, yang paling menarik di panduan ini adalah pendekatannya yang sangat moril. Fokusnya kuat sekali kepada pengendalian hubungan seks pra-nikah. Diulangi terus adalah pesan ‘Katakan TIDAK! pada ajakan berhubungan seks’. Yang sangat mengherankan, adalah diantara 65 halaman dibaktikan kepada pencegahan HIV/AIDS dan sebagainya, kepentingan kondom sekalipun tidak
29 ‘Modul Penyuluhan HIV/AIDS Bagi Siswa SLTA’, 1997, Yayasan Pelita Ilmu, Page 1 31
disebutkan. Ada dua contoh yang menunjukkan kekurangan pedoman ini: a) penjelasan pencegahan kehamilan pra-nikah dan b) penjelasan penularan HIV/AIDS.
a) ‘Dapatkah kehamilan pada remaja, dicegah?
Dapat! Kehamilan pada remaja dapat dicegah dengan mengendalikan diri selama berpacran dan tidak berhubungan seks sebelum nikah.’ 30
Sudah lama terbukti bahwa pengunaan kondom sangat efektif mencegah kehamilan. Ketidakadaan informasi ini menunjukkan sikap masyarakat yang tidak mendukung pemberian kontrasepsi kepada orang yang belum nikah. Alasan utama untuk sikap ini adalah ketakutan bahwa pengajaran kontrasepsi di ruang sekolah mendukung hubungan seks pra-nikah dan mendorong para siswa mulai berhubungan seks pada usia muda. Kata seorang guru BK di sekolah Katolik, ‘kita harus berhati-hatilah waktu menjelaskan tentang alat-alat kontrasepsi, karena nanti jangan jangan disalahgunakan.’31 Sebenarnya, menurut ahli bidang Pendidikan Seks yang menyelidiki isu ini, program-program Pendidikan Seks yang dalam, yang mengajar tentang pergunaan kondom, tidak menaikkan perilaku seks pra-nikah, malahan berhasil menurunkan kejadian perilaku seksual beresiko antara kaum remaja.
30 ‘Modul Penyuluhan HIV/AIDS Bagi Siswa SLTA’, 1997, Yayasan Pelita Ilmu Page 26
31 Hasil Wawancara, Guru BK Sekolah Katolik, tanggal 26 Nopember 2004 32
b) ‘Upaya Mencegah tertular HIV/AIDS32
1) Tidak melakukan hubungan seks sebelum nikah
2) Tidak melakukan hubungan seks di luar nikah
3) Tidak menerima transfusi darah yang tidak jelas status HIV-nya
4) Pergunakan alat suntik, tindik atau tatto yang hanya sekali pakai
5) Jauhi narkotik
6) Hindari mabuk-mabukan yang bisa membuat lupa diri sehingga melakukan perbuatan yang beresiko tertular HIV/AIDS
7) Berani menolak ajakan yang beresiko tertular HIV/AIDS
8) Mensterilkan alat-alat medis dan non-medis setiap sekali pakai, terutama yang berhubungan dengan cairan tubuh manusia
9) Menyebarkan informasi HIV/AIDS pada setiap kesempatan
Penjelasan ini sama sekali tidak lengkap. Tingkat penularan HIV/AIDS sedang naik di Indonesia, baik di antara kelompok-kelompok yang dianggap beresiko (seperti pekerja industri seks dan pecandu narkoba suntik) maupun di luar kelompok-kelompok ini. Menurut Lembaga Pendidikan Penelitian dan Penerbitan Yogya (LP3Y), dalam triwulan Juli sampai September 2004 Indonesia telah terdapat tambahan 838 kasus AIDS dan 473 pengidap infeksi HIV. 33 Jelas bahwa penyebarluasan informasi yang lengkap dan benar terhadap pencegahan penularan HIV/AIDS bisa menyelamatkan ratusan orang Indonesia. ∗
‘Modul Penyuluhan HIV/AIDS Bagi Siswa SLTA’, 1997, Yayasan Pelita Ilmu ,page 36
33 http://www.lp3y.org/
∗ Hasil ini juga dipengaruhi tingkat pengujian darah yang lebih luas, yang dulu sangat rendah. Bagaimanapun juga, jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia banyak sekali, dan informasi tentag pergunaan kondom dapat mengurangi penularan penyakit itu pada masa depan.
33
3.4 Hambatan pengajaran Pendidikan Seks di Ruang Sekolah
Ada beberapa hambatan dihadapi pemberian Pendidikan Seks di ruang sekolah.
Pertama, ada sikap masyarakat (termasuk pemimpin agama, orangtua, dan sekolah-sekolah) yang tidak mendukung Pendidikan Seks. Sikap ini didasarkan pada persepsi bahwa Pendidikan Seks mendorong anak remaja mulai berhubungan seks pra-nikah. Orang yang bersikap seperti ini merasa bahwa Pendidkan Seks secara lengkap dan dalam tidak pantas untuk kaum remaja, apalagi pemberian informasi tentang kontrasepsi seperti kondom. Sebetulnya, beberapa studi telah menunjukkan persepsi ini keliru. ∗
Kedua, pemberian Pendidikan Seks sering dihambatkan oleh sikap-sikap guru sekolah yang bertanggung jawab memberikan informasi yang benar dan lengkap dalam bidang ini. Yaitu, sikap yang menyampingkan kepentingan Pendidikan Seks, dan menolak anjuran bahwa setiap siswa perlu diberikan informasi tentang dunia seks. Studi kasus berikutnya menggambarkan sikap ini yang dipegang guru BK di sekolah Negeri.
∗ Mohon melihat 3.2 dan 3.3.i
34
3.5 Studi Kasus 2: Pendidikan Seks di Sekolah Negeri34
Sekolah Negeri yang menjadi fokus penelitian berpendapat bahwa Pendidikan Seks seperti ini tidak penting. Menurut guru BK yang diwawancarai di sekolah itu, Pendidikan Seks tidak diperlukan siswa-siswa di sana. Alasannya karena sekolah itu adalah sekolah pilihan, berarti siswa-siswa di sana berasal dari segi masyarakat berkualitas di posisi menengah ke atas. Karena itu, menurut beliau, pertimbangan siswa-siswa di sana lebih bagus dari sekolah lain, dan tidak termasuk kelompok beresiko pergaulan bebas atau narkoba, jauh lebih berbeda dari sekolah lain, belum lagi klien-klien PKBI.
Untuk menyampaikan pengetahuan ini, sekolah itu mengundang seorang ahli bidang Pendidikan Seks mendatangi sekolahnya satu kali setahun, dan memberi pidato kepada para siswa. Kata Guru BK ini, pidato ini biasanya terfokus pada ‘bahayanya’ perilaku seksual, dan didampingi satu atau dua orang yang pernah mengalami masalah berkaitan dengan seks pra-nikah dan narkoba. Program ini dilakukan beberapa sekolah seluasnya Indonesia, sebagai bagian saran untuk pemberian Pendidikan Seks diberikan BKKBN. Akan tetapi, tetap menjadi kenyataan bahwa dewasa ini kaum remaja butuh Pendidikan Seks lebih lengkap daripada yang sempat diberikan selama satu atau dua jam.
Pendidikan Seks yang diberikan siswa-siswa sekolah negeri itu terfokus pada tiga pokok: pacaran sehat yang sesuai dengan norma-norma sekolah itu;
34 Hasil Wawancara, Guru BK Sekolah Negeri, tanggal 26 Nopember 2004 35
persiapan untuk menahan keinginan nafsu; dan perkembangan diri yang positif. Isu-isu ini memang merupakan sebagian penting dalam Pendidikan Seks – tetapi kalau diberikan sendiri, kurang lengkap, dan kesempatan pembahasan soal-soal itu juga kurang. Sekalipun guru ini memberitahu saya bahwa dia pernah sadar ada siswa di sekolahnya yang percaya mitos seksualitas, seperti ‘orang yang berhubungan seksual pertama kali atau sekali saja tidak bisa hamil, tidak bisa kena penyakit seksual’. Akan tetapi guru ini melangkahi masalah itu sebagai sesuatu yang tidak penting dibenarkan oleh sekolah demi kepentingan siswa-siswanya.
Sikap ini memang mengherankan, karena guru tersebut pernah aktif sebagai konselor relawan di PKBI, berarti sudah terlatih dengan filsafat Pendidikan Seks dipegang LSM itu. Sayangnya, ternyata guru ini tidak melihat keperluan klien-klien PKBI sebagai keperluan yang bisa dialami sembarang orang, dan mungkin bisa diurusi dengan melakukan program Pendidikan Seks yang lengkap di sekolah.
3.6 Studi Kasus 3: Pendidikan Seks di Sekolah Katolik
Dari semua sekolah diteliti, rupanya sekolah Katolik paling mendukung pemberian Pendidikan Seks kepada siswa-siswanya. Menurut guru BK di sana, sikapnya atas Pendidikan Seks terbuka, sampai bahan-bahan yang ‘vulgar-vulgar
36
tidak apa-apa, karena anak-anak sekarang sudah tahu, sudah pinter’, dan yang penting itu mereka harus menerima pengetahuan yang benar.35
Beberapa tahun lalu, sekolah ini didatangi PKBI dengan saran berkerja sama untuk mengadakan Program Peer Educator. Di program ini, sukarelawan PKBI (biasanya mahasiswa yang terlatih PKBI), masuk sekolah untuk membahas isu-isu seksualitas dengan para siswa. Program ini memakai kegiatan bermacam-macam termasuk pemainan dan Group Discussion untuk membahas isu-isu seksualitas, seperti cara penularan HIV/AIDS, PMS, dan mitos tentang hubungan seks. Fokus pembicaraan adalah pengetahuan yang benar untuk siswa-siswa, kesempatan untuk para siswa untuk bertanya pertanyaan tentang masalah seks, dan ajaran harga diri dan perkembangan pribadi. Perempuan dan laki-laki terpisah di kelompok sendiri, karena menurut pelatih PKBI, siswa-siswa lebih terbuka dan tidak merasa malu kalau tidak dicampur lawan jenis. Program ini bermanfaat siswa-siswa oleh memberikan informasi Pendidikan Seks, dan juga mengenal pelayanaan tersedia di Youth Centre PKBI.
Selain program ini, guru BK memakai panduan UNICEF untuk memberi Pendidikan Seks kepada siswa-siswa sana, dicampur dengan ahklak Kristen/Katolik. Beliau berpendapat bahwa iman yang kuat berhubungan dekat dengan pendidikan seks, karena iman itu berperan mencegah siswa-siswa melakukan perilaku yang dianggap dosa – seperti perilau seksual pra-nikah.
35 Hasil Wawancara, Guru BK Sekolah Katolik, tanggal 26 Nopember 2004 37
Menurut beliau, yang melakukan pergaulan bebas bersikap kehidupan dengan sikap ‘enak aja’, dan tidak memiliki jaring keamanan disediakan ajaran agama untuk mengingatkan akibat-akibat perilakunya.
Tetapi, kalau iman dan pendidikan ini gagal, dan seorang siswa perempuan menjadi hamil, bagaimana akibatnya di sekolah ini? Menurut guru BK di sekolah Katolik, aturan ini kurang adil - semua penduduk Indonesia berhak bersekolah. Dalam keadaan ini, jalannya tergantung pada kasusnya. Kalau misalnya perempuan terlibat sudah kelas 3, dan sudah menyalang ujian terakhir, sekolah itu akan coba menyelamatkan perempuan itu. Yaitu, sekolah akan bertindak untuk mentutupi keadaan perempuan itu sampai dia lulus.
Dalam isu kehamilan pra-nikah maupun Pendidikan Seks secara umum sekolah Katolik ini sangat liberal dan terbuka dalam sikapnya.
38
Bab 4: Pendidikan Seks di luar Ruang Sekolah
4.1 Lingkungan Keluarga
Orangtua mempunyai peran penting dalam perkembangan anak-anaknya, khususnya pada masa remaja. Masa remaja adalah periode penuh dengan perubahan, baik dalam hal jasmani maupun hal mental dan sosial. Orangtua mampu membimbing anak-anaknya selama masalah-masalah periode ini, sambil memberi informasi dan saran untuk kehidupan sehat. Dewasa ini, orangtua berperan bertindak untuk melindungi anak-anaknya dari pengaruh sosial yang tidak sehat. Menurut Dra Tika Bisono, cara terbaik memenuhi peran ini adalah bersahabat dengan anak remaja dan tidak menghindari pertanyaan sulit, khususnya tentang masalah seks. 36
Hasil kwesioner menunjukkan bahwa orangtua dianggap sumber informasi tentang soal seks yang paling bermanfaat setelah sekolah (Figure 2: Sumber Informasi Bermanfaat). Walaupun begitu, kebanyakan responden kaum remaja setuju bahwa masalah seks ‘nggak enak’ dibicarakan dengan orangtuanya. Kata satu siswa yang bersekolah di sekolah Kristen,
‘...kalau ngomong-ngomong sama orangtua, ngobrol seperti itu tabu, terus kalau seorang cewek bertanya tentang seks itu dianggap jelek, dosa. Kalau kita nggak bisa bertanya sama orangtua, berarti dapat informasi
36‘Bersahabat dengan Si Muda Belia’, Republika, page 14, 9 Sep 2004 39
tentang seks dari teman sebaya aja. Tapi ternyata sharing sama temen-temen bisa jadi yang nggak benar...’37
Demikian pula, orangtua tidak merasa nyaman membahas topik seks dengan anaknya. Kata Murdijana, ada lima alasan umum untuk keadaan ini:
Sekolah Ibu+Bapak Teman2 Kakak TVVCD Majalah LSM BKAgama
Figure 2: Sumber Informasi Bermanfaat38
a) Orangtua merasa ketidakadaan tingkat pengetahuan untuk menjawab pertanyaan tentang kesehatan reproduksi;
b) Orangtua tidak tahu batasan informasi yang pantas diberitahu anaknya;
37 Group Discussion, Sekolah Kristen tanggal 11 Nopember 2004
38 Hasil kwesioner, dilakukan penulis pada bulan Nopember, 2004 40
c) Orangtua tidak tahu umur yang baik untuk mulai memberi pendidikan seks kepada anaknya;
d) Orangtua tidak tahu cara berkomunikasi dengan anaknya dengan suara sahabat;
e) Orangtua kurang bisa menciptakan suasana terbuka dan nyaman untuk pembahasaan seksualitas dengan anaknya.39
Masalah seks dianggap sulit dibahas oleh kebanyakan orangtua. Mungkin karena generasi itu tidak menerima Pendidikan Seks saat berusia remaja, topik ini susah didekati. Di pihak lain, juga ada perasaan kuat bahwa Pendidikan Seks tidak dibutuhkan oleh kaum remaja. Menurut Dr. Boyke, seorang ahli di bidang Pendidikan Seks,
‘Banyak orangtua yang menganggap, kalau penampilan anak wanitanya kalem dan pendiam, lantas merasa aman. Padahal, justru karena mereka tak pernah berpacaran, begitu berpacaran sering kebablasan sampai banyak yang datang je tempat saya minta tolong.’40
Satu hambatan yang sangat jelas adalah perasaan antara orangtua bahwa Pendidikan Seks akan menimbulkan keinginan coba-coba atau kemungkinan remaja akan melakukan hubungan seks. 41 Menurut evaluasi WHO atas 47 program Pendidikan Seks di Amerika Serikat dan negara lain, pendapat ini keliru.
39‘The Indonesian Youth Population’, Desty Murdijana, 1997, page 23
40 ‘Seminar Seks dan remaja SMUN Parung’, Republika, 13 Mei 2002‘Seminar Seks dan remaja SMUN Parung’
41 ‘Kita Alpa Memuliakan Anak’, Republika, 23 Mei 2004 41
Menurut hasil review tersebut, dalam 15 studi kasus, Pendidikan Seks tidak menimbulkan atau mengurangi perilaku seks pra-nikah dan kejadian kehamilan dan kasus PMS antara remaja. Lagipula dalam 17 studi kasus dievaluasi, Pendidikan Seks memperlambatkan permulaanya hubungan seks, mengurangi jumlah pasang hubungan seks, dan mengurangi kejadian kehamilan tak direncanakan dan penularan PMS. 42
Lingkungan keluarga merupakan kesempatan bagus untuk penyuluhan masalah seks. Sampai sekarang, kesempatan ini jarang digunakan oleh orangtua, karena masalah seks disampingkan atau ditutupi. Dalam keadaan ini, kaum remaja sering mencari sumber informasi lain untuk memenuhi keingintahuannya: yaitu, media massa.
4.2 Media massa
Dewasa ini, media massa adalah sangat muda dipergunakan kaum remaja. TV, film, musik, media cetak dan internet adalah sumber informasi yang cukup murah dan mudah dicapai untuk para belia. Studi lapangan ini meneliti baik-buruknya beberapa sumber media massa sebagai sumber informasi Pendidikan Seks dan pengaruhnya atas kaum remaja.
42 Baldo, M et al. Does Sex Education Lead to Earlier or Increased Sexual Activity in Youth? Presented at the Ninth International Conference n AIDS, Berlin, June 6-19, 1993. Geneva, Switzerland: World Heath Organization
42
23,710,1314,53,93,7715,43,84,56,24,3sekolahibu+bapakkakakteman2tv dramatv dokVCDmajalahLSMBKagamalain
Figure 3: Hasil kwesioner, Section #3, Cara Belajar Tentang Kesehatan Reproduksi
Diagram diatas (Figure 3) menggambarkan jawaban pertanyaan ini: ‘Saya biasanya dapat informasi tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual bertanggung jawab dari...’ Bagian diagramnya mewakili frekwensi (%) pilihannya dicoret. Dari hasilnya jelas bahwa tv (drama dan dokumenter), VCD dan majalah merupakan sumber informasi penting yang sering dicari kaum remaja.
4.2.i Republika
Ibu Elly Risman dan Ibu Neno Warisman, ‘Bunda’
Koran Republika menerbitkan rubrik nasehat untuk belia disebutkan ‘Bunda’. Seorang tokoh yang cukup terkenal di bidang Pendidikan Seks, Ibu Elly Risman, dan Ibu Neno Warisman, menjawab pertanyaan, memberi nasehat dan
43
saran kepada pembaca. Nasehat yang diberikan lewat rubrik ini selalu didampingi ajaran agama, dengan tujuan memperkuatkan iman pembaca dan mengurangi kejadian perilaku beresiko. Misalnya, dalam ‘Pacaran Nggak Boleh, Gimana Aku Tahu Calon Suamiku?’ (Lampiran 1), soal pacaran dan Islam dijelaskan kepada pembaca, dengan penjelasan ‘Khitbah’. Kata Ibu Elly Risman, untuk mendekati soal seks ‘saya sendiri berpedomen balik deh ke hadis dan Quran. Semua ada di situ.’ 43
Meskipun pendekatannya yang terfokus pada norma-norma agama, Ibu Elly Risman mendukung pemberian Pendidikan Seks kepada kaum remaja:
‘Pendidikan Seks bukan menganjurkan hubungan seks di kalangan remaja, melainkan bertujuan agar remaja mengenal dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan menghindari seks bebas.’44
Pendekatan ini yang sesuai dengan agama diterima dengan baik oleh pembaca. Seorang pembaca berkata
‘Saya sungguh-sungguh salut kepada Republika dan pengasuh rubrik “Bunda” yang mewakili segelintir rubrik yang bicara seks secara cukup sehat...[dan menghormati] batasan yang perlu ditaati untuk memuat materi ini di media...’45
Dari hasil wawancara dilakukan selama studi lapangan ini, jelas bahwa agama masih dianggap sumber bimbingan dan aturan penting antara kaum remaja.
43 ‘Kita Alpa Memuliakan Anak’ Republika, 23 Mei 2004
44 ‘Awas! Bahaya Pornografi’ Muhammed Nurcholish, Republika, 23 Maret 2003
45 http://dhani.blogspot.com/2004_06_01_dhani_archive.html 25 Juni 2004 44
4.2.i Internet
World Wide Web terbukti merupakan sumber informasi yang sangat luas dan sangat bebas digunakan. Di Yogyakarta, cafe-cafe internet ramai dengan anak-anak berseragam antara jam satu siang sampai sore. Pada waktu bebas, sudah biasa untuk para muda menghabiskan waktu main (surfing) internet - chatting, kirim dan menerima email, dan mencari halaman menarik. Berharga kira-kira Rp2500-Rp3500 per jam, internet adalah sumber informasi yang penuh dengan informasi yang menarik dari seluruh dunia dan mampu diakses kaum muda.
Di Internet ada ribuan halaman tentang soal seks, dari informasi kesehatan sampai halaman pornografi. Di satu pihak, internet memberi kesempatan untuk kaum belia mencari jawaban pertanyaan tentang soal seks dan kesehatan reproduksi secara pribadi, supaya tidak merasa malu-malu. Tetapi, di pihak lain pergunaan internet tak diatur, akibatnya kaum muda dapat mengakses situs pornografi tanpa bimbingan. Dari sini memuncul masalah salah paham tentang hubungan seks. Menurut pendapat seorang siswa yang bersekolah di Sekolah Swasta, media elektronik, khususnya situs porno seperti ini bisa mempengaruhi perkembangan penonton muda secara buruk.
‘Mungkin satu dampak dari media elektronik adalah mereka [yang mengakses situs porno] tidak mengetahui hubungan seks yang baik, yang sehat. Kalau masyarakat Indonesia, khususnya kaum muda, tidak benar-benar memahami masalah seksual, bahaya sekali. Ini terbukti dengan
45
kasus-kasus pemerkosaan yang terjadi setelah pelaksana menonton porno [internet dan VCD].46’
4.2.iii Film
Film merupakan satu medium yang berpengaruh pendapat penonton dengan gambaran soal seks yang diekspresikan lewat ceritanya. Seperti internet, film termasuk media yang gampang dan sering diakses kaum muda. Hiburan nonton film Barat, film India maupun film Indonesia cukup populer antara kaum remaja. Satu kali menonton film di bioskop Mataram di Yogyakarta berharga kira-kira Rp7000, dan terlihat pilihan populer untuk berpacaran malam mingguan. Selain bioskop, film-film VCD tersedia disewa untuk kira-kira Rp1000 per film.
Film adalah satu media yang membiakkan salah paham tentang seks, khususnya seks di kebudayaan Barat. Kalau film Hollywood menjadi satu-satunya sumber pengertian atas topik ini tidak mengherankan bahwa di Indonesia ada kesan kuat tentang ide ‘free sex’ di negara-negara Barat. Seorang siswa yang bersekolah di sekolah Islam menjelaskan pengaruh film-film Barat begini:
‘Mereka [kaum remaja yang melakukan pergaulan bebas] berpikir sekarang kan budaya Barat udah masuk ke Indonesia – dan pergaulan bebas itu dianggap keren. Mereka melakukan hal seperti itu tanpa melihat resikonya.’47
46 Hasil Wawancara, siswa Sekolah Swasta, tanggal 26 Nopember 2004
47 Hasil wawancara, siswa Sekolah Islam, tanggal 30 Nopember 2004 46
Untuk mengeksplorasikan pengertian ide-ide seks, kontrasepsi dan pendidikan Seks antara para siswa, saya mengadakan group discussion di sekolah Kristen. Yang mengikuti berjumlah 14 laki-laki berumur 15-17 tahun, dan tiga perempuan berumur 16 tahun. Tidak lama sampai seorang laki-laki bertanya tentang ‘free sex’ di Australi. Dibalik gelak-ketawa siswa-siswa yang gugup, saya bertanya kepada grup, apa itu ‘free sex’? Persetujuan antara siswa adalah bahwa ‘free sex’ adalah pergaulan bebas, berhubungan seks dengan sembarang orang, dan sudah sangat biasa di Australi, Amerika Serikat, Perancis dan negara Barat lain. Menurut satu laki-laki, ‘Untuk orang Barat seks itu biasa. Tapi untuk orang Timur itu dianggap dosa, tabu.’ Yang lain menambah,
‘Di Timur seks pra-nikah masih dilarang, merupakan dosa di budaya kita...mungkin di Australi gandengan pada umum udah biasa, tapi di sini dianggap jelek, apalagi ciuman cewek-cowok, dikirain nakal...Di negaramu semua cuek aja kan?’ 48
Debat itu menunjukkan perasaan kuat antara para siswa Yogyakarta ini bahwa Indonesia sangat berbeda daripada negara Barat. Mereka yakin bahwa pemahamannya atas seks di negara Barat benar. Kebanyakan menemukan ide ini tentang ‘free seks’ dari kakak-kakaknya, atau seorang siswa yang lebih tua. Fenomena itu terbukti benar oleh film dan acara tv dari negeri asing. Siswa-siswa yang ikut Group Discussion agak mengherankan bahwa di Australi, di sekolah saya dan antara teman saya, tidak ada yang melakukan ‘free seks’ sebagai hiburan
48 Group Discussion, Sekolah Kristen tanggal 11 Nopember 2004
47
biasa, apalagi di antara masyarakat umum. Saya menjelaskan bahwa ada yang melakukan seks pra-nikah, tetapi biasanya dengan pacar atau calon isteri/suami.
Sebetulnya, Indonesia terlihat mengalami semacam ‘revolusi seksualitas’ sedangkan dunia Barat menjadi lebih konserfatif. 49 Suasana sosial di antara kaum remaja Jakarta diggambarkan film Indonesia yang direlis pada tahun 2004 dengan judul ‘Virgin’. Film ini memfokuskan kelompok kawan perempuan yang sangat liberal dengan seksualitasnya – sampai masuk dunia perek (perempuan eksperimental) dan menjual keperawanannya. Kebanyakan siswa diwawancarai berpendapat bahwa film itu membawa pesan baik untuk kaum remaja. Menurut seorang siswa yang bersekolah di sekolah Islam, ‘...bagi remaja cerita itu bisa jadi pelajaran, akibatnya pergaulan bebas, dan kepentingan harga diri gitu lho.’50
Para muda Indonesia mengadopsikan sikap dan perilaku yang lebih liberal terhadap seks. Lagipula, menurut Utomo kaum muda Indonesia tidak diperlengkapi dengan pengertian dan pengetahuan tentang reproduksi untuk berhubungan seks dengan cara sehat, dibandingkan dengan kaum muda Barat yang mempunyai kesadaran lebih tinggi atas isu-isu ini waktu menhadapi soal seks.
49 Utomo, ‘Sexuality among Jakarta Middle Class Young People’, 1999,
50 Hasil wawancara, siswa Sekolah Islam, tanggal 30 Nopember 2004 48
4.2.iv Pornografi
Saat ini bertabaran tabloid dan VCD porno dijual bebas di tempat-tempat umum seperti terminal, stasium, emperan toko maupun trotoar. Akibatnya kekurangan sumber pengetahuan resmi tentang masalah seks di ruang umum, tidak mengherankan bahwa kaum remaja sering mencari tahu tentang hal itu dari sumber-sumber yang gampang didapat, yaitu pornografi. Menurut hasil kwesioner, kualitas VCD sebagai sumber informasi tidak dianggap setinggi sekolah atau orangtua, tetapi merupakan 7% sumber informasi yang sering dicari responden. Kata seorang siswa yang bersekolah di sekolah Islam, ‘Kalau kita ada pertanyaan, kita berguru ke VCD – kalau pendapatku itu kurang baik tapi nggak ada tempat lain kok.’ 51
Menurut hasil penelitian dilakukan oleh PKBI, ‘sekolah menjadi tempat yang biasa remaja gunakan untuk saling tukar informasi, termasuk juga persoalan gambar dan buku porno.’52 Antara responden remaja kota, sebagian besar mengaku telah menonton VCD porno dan melihat buku-buku porno, yang biasanya didapat dari teman sekelasnya.
4.2.v MTV Asia
Sangat populer antara kaum remaja adalah stasiun telivisi MTV Asia. Musik video dari Indonesia dan Amerika diputar setiap hari oleh stasiun ini. Yang
51 Hasil wawancara, siswa Sekolah Islam, tanggal 30 Nopember 2004
52 Bening,Mei 2004/Vol V. no.01 page 5 49
sangat populer adalah lagu aliran R’n’B, dengan musik video bintang-bintang seperti Beyonce Knowles, Jay-Z dan Eminem yang agak erotis dimintai penonton beberapa kali sehari. Bisa dikatakan bahwa musik video tersebut menambah-nambah persoalan pengertian ‘free seks’ dan hubungan seks sebagai perilaku bergengsi.
Meskipun begitu, MTV Asia bertujuan untuk mempergunakan kesempatan berkomunukasi dengan kaum muda oleh sering mengadakan acara tentang hal HIV/AIDS dan perilaku seksual beresiko. Dalam program berkerjasama dengan UNAIDS, MTV Asia sering mempromosikan penggunaan kondom, dan mengadakan acara pengumpulan uang dan menyadari masyarakat tentang HIV/AIDS.
4.2.vi World AIDS Day
Di ruang umum, ada yang melangkah menyampaikan informasi tentang HIV/AIDS kepada rakyat. Satu contoh adalah peristiwa World AIDS Day, yang diadakan di seluruh dunia pada tanggal 1 Desember. Di Yogyakarta, beberapa acara diadakan di kampus, sekolah, tempat umum dan cafe-cafe untuk menyadari penduduk Yogya tentang masalah HIV/AIDS. PKBI, Rifka Anisa, dan Jaringan
50
Odha Yogyakarta (JOY) adalah beberapa LSM yang mengatur acara pada hari ini, termasuk acara musik, pidato, penumpulan uang, dan penunjukkan solidaritas dengan ODHA (Orang Derita HIV AIDS). Kampus-kampus dan kumpulan seniman juga ikut mengadakan acara World AIDS Day. Peristiwa ini berhasil menaiki kesadaran penduduk Yogyakarta atas soal AIDS setiap tahun.
4.3 Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI)
Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia merupakan organisasi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berkerja dalam bidang kesehatan reproduksi. Kebanyakan para pegawai PKBI adalah sukarelawan, yang berkerja di klinik dan kantor seluas 26 propinsi. PKBI didirikan pada tahun 1957 dengan bertujuan memperjuangkan penerimaan dan praktek keluarga bertanggung jawab dalam keluarga Indonesia. PKBI mendukung pengembangan program, jaringan dan pemberdayaan masyarakat melalui peran advokasi di ruang pemerintah, melayani konseling, pendidikan dan meneliti kebutuhan masyarakat.
Di DI Yogyakarta, Proyek Lentera Sahaja (atau Sahabat Remaja) memfokuskan melayani kelompok masyarakat beresiko – remaja bermasalah. anak jalanan, orang homoseks, kaum waria dan wanita yang berkerja di industri seks. PKBI melayani konseling, perpustakaan, dan pendidikan kepada siapa saja minta bantuannya. Di bidang Pendidikan Seks, Lentera Sahaja melakukan
51
pelayanaan lanjutan yang sangat bermanfaat kaum remaja, yakni Program Peer Educator.
Menurut PKBI, pembahasan masalah seks dengan kaum remaja lebih terbuka dan nyaman jika usianya pemimpin pembahasan masih cukup muda. Oleh karena itu, PKBI mengembangkan suatu program yang mendidik relawan berusia 20an tahun untuk memberi penyuluhan atas masalah seks, baik di ruang sekolah maupun di luar ruang sekolah.
Di Yogyakarta, program PPE dikerjakan enam sukarelawan yang berumur sekitar 20an tahun. Menurut koordinator, Mas Roel, Program Peer Educatator telah diterima tujuh sekolah di Yogyakarta. Program ini bertujuan di satu pihak untuk bertindak memberi Pendidikan Seks secara psikologis dan sosiologis langsung kepada kaum remaja, di sekolah maupun di Youth Centre. Di pihak lain PPE berperan mengajak pemerintah mendiskusikan soal memasukkan Pendidikan Seks ke kurikulum resmi. Pada isu ini, kata Mas Roel ‘pemerintah saat ini cenderung tidak stabil, kadang-kadang setuju dengan keresmian pendidikan reproduksi sehat, tapi sampai sekarang kebijakannya belum yakin.’ 53 PKBI sangat mendukung pemberian Pendidikan Seks dengan fokus pada keadaan dan kenyataan sosial, daripada sebagai ilmu biologi.
53 Hasil Wawancara, Mas Roel (Koordinator PPE, PKBI) tanggal 11 Nopember 2004 52
Sukarelawan PPE aktif di ruang Youth Centre yang dilayani PKBI. Youth Centre ini terletak di daerah Taman Siswa, dan telah diterima kaum remaja sebagai tempat pendidikan dan tempat nongkrong, untuk santai dan bergaul dengan orang muda lain. Saya telah mengikuti acara PPE di Youth Centre, untuk mengerti lingkungan program dan hubungan antara Peer Educators dan siswa-siswa. Dari observasi saya, Youth Group ini memang bermanfaat remaja yang ikut. Anak-anak remaja menyempatkan lingkungan PPE untuk belajar tentang isu-isu yang sangat penting untuk kehidupannya, maupun berinteraksi dengan siswa seumur dari sekolah lain. Suasananya sangat nyaman dan ramah-tamah.
53
Bab 5: Penutup
5.1 Kesimpulan Dari Hasil Penelitian Studi Lapangan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan soal Pendidikan Seks diatas terdapat beberapa kesimpulan:
• Saat ini, Pendidikan Seks merupakan kebutuhan yang tidak bisa disampingkan atau ditutupi lagi, demi kepentingan masa depan para muda Indonesia.
• Ada beberapa sikap dipegang masyarakat terhadap soal seks yang mempengaruhi pemberian Pendidikan Seks, dari sokongan sampai ketidaktahuan.
• Norma-norma agama tetap penting di Indonesia, dan bisa bermanfaat atau merugikan pemberian Pendidikan Seks. Pendidikan Seks sebaiknya diberikan secara sesuai dengan norma-norma agama.
• Bantuan dari pemerintah di bidang ini masih sangat rendah.
• Pendidikan Seks datang dari banyak sumber pengetahuan di luar ruang sekolah, baik yang bermanfaat (seperti orangtua, World AIDS Day dan LSM seperti PKBI) dan yang merugikan (seperti bahan-bahan porno, dan teman sebaya).
• Ruang Sekolah mampu memberi Pendidikan Seks kepada kaum muda.
54
• Pendidikan Seks yang diberikan secara seimbang antara pendekatan pengetahuan biologis dan pendekatan sosiologis bermanfaat para muda, dan dapat membantu para itu mengambil keputusan baik dalam kehidupannya.
5.2 Saran
Fokusnya utama Pendidikan Seks adalah pendidikan dan pengetahuan, daripada seks. Pendidikan Seks mampu menyelamatkan kaum remaja dari keadaan yang tidak sehat atau berbahaya untuk kesehatannya. Seharusnya Pendidikan Seks tidak dianggap tabu dan tidak ditutupi lagi.
Sebagai suatu cabang masyarakat yang mampu sebagian besar penduduk kaum muda, ruang sekolah seharusnya mengambil peran utama untuk memberi Pendidikan Seks ini.
Sebaiknya pemerintah bertindak mengembangkan program Pendidikan Seks dengan bahan-bahan resmi untuk disediakan setiap sekolah. Lebih banyak dana seharusnya diberikan bidang Pendidikan, untuk menyakinkan setiap siswa mengalami kesempatan untuk mengakses informasi yang dibutuhkan. Program Pendidikan Seks seharusnya mencapai keseimbangan antara pengetahuan lengkap (termasuk hal kontrasepsi) dan norma-norma kebudayaan dan agama Indonesia.
55
Tugas ini memang sulit, tetapi demi kepentingan masa depan masyarakat
Indonesia perlu diperhatikan.
56
Daftar Pustaka
Artikel-artikel Koran
‘Pacaran Nggak Boleh, Gimana Aku Tahu Calon Suamiku?’, Republika, 8 Des 1999
‘Awas! Bahaya Pornografi’ Nurcholish, Muhammed, Republika, 23 Maret 2003
‘Seminar Seks dan remaja SMUN Parung’, Republika, 13 Mei 2002
‘Kita Alpa Memuliakan Anak’ Republika, 23 Mei 2004
‘Bersahabat dengan Si Muda Belia’, Republika, 9 Sep 2004
Publikasi
Baldo, M et al, ‘Does Sex Education Lead to Earlier or Increased Sexual Activity in Youth?’ Presented at the Ninth International Conference n AIDS, Berlin, June 6-19, 1993. Geneva, Switzerland: World Heath Organization
Bening,Mei 2004/Vol V. no.01, Pusat Studi Seksualitas, PKBI, D.I Yogyakarta
Hasmi, E. (2001) ‘Adolescent Reproductive Health Policy in Indonesia’ 57
http://www.ippf.organisasi/regions/countries/Indonesia/index.html, 11 Nopember 2004
Murdijana, Desty (1997) ‘The Indonesian Youth Population’, Presented at the Conference on youth and Population Movement Across Asia, Kathmandu, September 23-25, 1997
Smith et al, (2000) ‘HIV and Sexual Health Education in Primary and Secondary Schools: Findings from Selected Asia-Pacific Countries’
Utomo, Iwu Dwiseyani (1999) ‘Sexuality among Jakarta Middle Class Young People’ Asian People and Cities, Newsletter of the Asian Urban Center of KOBE (AUICK). 1999. Pp. 15-21.
Utomo, Iwu Dwiseyani (2003) ‘Adolescent and Youth Reproductive Health in Indonesia: Status, Issues, Policies and Programs’ Policy Project,
http://www.policyproject.com/pubs/countryreports/ARH_Indonesia.pdf
WHO (1992) ‘School Health Education to Prevent AIDS and Sexually Transmitted Diseases’, World Health Organization, Geneva
Yayasan Pelita Ilmu (1997) ‘Modul Penyuluhan HIV/AIDS Bagi Siswa SLTA’ Yayasan Pelita Ilmu, Jakarta
58
Internet Resources
‘”Bunda” di Republika’
http://dhani.blogspot.com/2004_06_01_dhani_archive.html, 25 Nopember 2004
Departemen Pendidikan Nasional RI
http://www.pdk.go.id, 10 Nopember 2004
Kurikulum Online
http://www.puskur.or.id, 10 Nopember 2004
59
Lampiran 1: ‘Pacaran Nggak Boleh, Gimana Aku Tahu Calon Suamiku?’
Republika, tgl 8 Desember 2001
60
Lampiran 2: ‘Awas! Bahaya Pornografi’
Republika, tgl 23 Maret 2003
61
Lampiran 3: ‘Dugem: Apa Perlu?’
Republika, tgl 11 April 2004
62
Lampiran 4: ‘Menghadapi Masa Akil Baligh’
Republika, tgl 9 Sep 2004
63
Lampiran 5: Survei
Perhatian:
Hasil survei ini rahasia. Saya tidak perlu tahu nama Anda. Saya hanya ingin tahu pemikiran, perasaan dan ide-ide Anda dengan jawaban terhadap pertanyaan ini.
TERIMA KASIH BANYAK UNTUK IKUT SURVEI INI.
Umur: _________
Tingkat Sekolah: _________
Jenis Kelamin: Laki-laki / Perempuan
64
1. Pendahulan.
Tolong beritanda (�� ) pada kotak yang sesuai dengan pilihan Anda.
a) Tahun ini, saya pernah ikut
�� Satu survei �� dua survei �� tiga atau lebih dari tiga survei
�� belum pernah ikut survei
b) Kebanyakan survei yang sudah saya ikuti di
�� Majalah �� di mal �� di sekolah
�� di rumah �� lain
c) Saya pernah ikut survei tentang
�� Busana �� musik dan hiburan �� gaya hidup
�� kesehatan �� Perasaan saya tentang masa depan
�� lain
Apakah Anda setuju dengan pernyataan ini? Tolong beritanda yang sesuai dengan pendapat Anda.
d) “Saya suka memberi pendapat dalam survei seperti ini.”
1 2 3 4 5
sangat tidak tidak setuju belum tahu setuju sangat setuju
setuju
Tolong dilanjutkan bagian 2.
65
2. Pengetahuan saya tentang Kesehatan Reproduksi
Tolong beritanda (�� ) pada kotak yang sesuai dengan pilihan Anda.
a) Saya telah belajar tentang kesehatan reproduksi di sekolah selama
�� satu tahun �� dua tahun �� tiga tahun lebih
Apakah Anda setuju dengan pernyataan ini? Tolong beritanda yang sesuai dengan pendapat Anda.
b) “Saya sudah memahami cukup banyak tentang kesehatan reproduksi.”
1 2 3 4 5
sangat tidak tidak setuju belum tahu setuju sangat setuju
setuju
c) “Saya sudah memahami cukup banyak tentang HIV/AIDS.”
1 2 3 4 5
sangat tidak tidak setuju belum tahu setuju sangat setuju
setuju
d) “Saya sudah memahami cukup banyak tentang Penyakit Menular Seksual (PMS).”
1 2 3 4 5
sangat tidak tidak setuju belum tahu setuju sangat setuju
setuju
e) “Saya sudah memahami cukup banyak tentang kontrasepsi dan perilaku seksual bertanggung jawab.”
1 2 3 4 5
sangat tidak tidak setuju belum tahu setuju sangat setuju
setuju
f) “Saya sudah tahu tempat yang dapat memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi.”
1 2 3 4 5
sangat tidak tidak setuju belum tahu setuju sangat setuju
setuju
Tolong dilanjutkan bagian 3.
66
3. Cara belajar tentang kesehatan reproduksi
Tolong beritanda (�� ) pada kotak yang sesuai dengan pilihan Anda (boleh memilih lebih dari satu).
a) Saya biasanya dapat informasi tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual bertanggung jawab dari:
�� sekolah �� ibu dan bapak �� kakak �� teman-teman
�� tv drama �� tv dokumenter �� VCD �� majalah
�� organisasi pemerintah (seperti PKBI54) �� BP
�� organisasi kemasyarakatan �� organisasi agama
Tolong beritanda (�� ) pada kotak yang sesuai dengan pilihan Anda. Tolong memilih salah satu pilihan.
b) Informasi yang menurut saya paling bermanfaat didapat dari:
�� sekolah �� ibu dan bapak �� kakak �� teman-teman
�� tv drama �� tv dokumenter �� VCD �� majalah
�� organisasi pemerintah (seperti PKBI) �� BP
�� organisasi kemasyarakatan �� organisasi agama
c) Informasi yang menurut saya paling tidak bermanfaat didapat dari:
�� sekolah �� ibu dan bapak �� kakak �� teman-teman
�� tv drama �� tv dokumenter �� VCD �� majalah
�� organisasi pemerintah (seperti PKBI) �� BP
�� organisasi kemasyarakatan �� organisasi agama
54 PKBI – Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia 67
Tolong beritanda (�� ) pada kotak yang sesuai dengan pilihan Anda (boleh memilih lebih dari satu).
d) Saya mengerti bahwa definisi ‘kesehatan reproduksi’ dan ‘perilaku seksual bertanggung jawab’ termasuk isu-isu tentang:
�� pengetahuan alat reproduksi laki-laki
�� pengetahuan alat reproduksi perempuan
�� pencegahan PMS dan HIV/AIDS
�� perilaku seksual beresiko
�� ada mitos tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual bertanggung jawab yang seharusnya saya mengerti benar atau salah
�� kontrasepsi dan kehamilan
Apakah Anda setuju dengan pernyataan ini? Tolong beritanda yang sesuai dengan pendapat Anda.
e) “Saya yakin bahwa pertanyaan tentang isu-isu ini bisa dijawab.”
1 2 3 4 5
sangat tidak tidak setuju belum tahu setuju sangat setuju
setuju
f) “Saya mempunyai cukup kesempatan membicarakan isu-isu kesehatan reproduksi dan perilaku seksual bertanggung jawab.”
1 2 3 4 5
sangat tidak tidak setuju belum tahu setuju sangat setuju
setuju
g) “Ada seseorang di sekolah yang bisa saya tanya tentang isu-isu kesehatan reproduksi.”
1 2 3 4 5
sangat tidak tidak setuju belum tahu setuju sangat setuju
setuju
68
h) “Ada seseorang di sekolah yang bisa saya tanya tentang isu-isu perilaku seksual bertanggung jawab.”
1 2 3 4 5
sangat tidak tidak setuju belum tahu setuju sangat setuju
setuju
Tolong dilanjutkkan bagian 4. 69
4. Masa depan saya
Tolong beritanda (�� ) pada kotak yang sesuai dengan pilihan Anda.
a) Saya akan menamatkan SMA pada
�� tahun ini �� tahun depan �� tahun berikutnya
b) Sesudah saya tamat SMA, saya berencana
�� berkerja �� melanjutkan pendidikan di Universitas
�� menikah
Apakah Anda setuju dengan pernyataan ini? Tolong beritanda yang sesuai dengan pendapat Anda.
c) “Saya merasa yakin bahwa saya sudah memahami cukup tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual bertanggung jawab.”
1 2 3 4 5
sangat tidak tidak setuju belum tahu setuju sangat setuju
setuju
d) “Saya merasa yakin bahwa saya bisa mendapat informasi tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual bertanggung jawab.”
1 2 3 4 5
sangat tidak tidak setuju belum tahu setuju sangat setuju
setuju
Tolong beritanda (�� ) pada kotak yang sesuai dengan pilihan Anda (boleh memilih lebih dari satu).
e) Pada masa depan, saya perlu memahami lebih banyak tentang:
�� pengetahuan alat reproduksi laki-laki
�� pengetahuan alat reproduksi perempuan
�� pencegahan PMS dan HIV/AIDS
�� perilaku seksual beresiko
70
�� mitos tentang kesehatan reproduksi dan perilaku seksual bertanggung jawab
�� kontrasepsi dan kehamilan
f) Jika saya perlu informasi lagi tentang isu-isu ini, saya bisa mendapatkan informasi dari:
�� organisasi pemerintah (seperti PKBI)
�� organisasi kemasyarakatan
�� organisasi agama
�� institusi pendidikan
Tolong dilanjutkan bagian 5.
71
5. Pikiran-pikiran dan pernyataan bebas
Bagian ini terserah Anda – tidak diwajibkan diisi.
________________________________________________________
________________________________________________________
________________________________________________________
________________________________________________________
________________________________________________________
________________________________________________________
Terima kasih banyak untuk bantuan Anda! Selamat belajar dan Selamat Hari Raya Idul Fitri!
72
Lampiran 6: Beberapa Komentar Menarik dari Para Siswa
Perempuan 15-16; Sekolah Negeri
• “Seharusnya Pendidikan Seks tidak dianggap tabu, tapi diberikan sejak dini agar kita bisa mencegah penyalahgunakan perilaku seks akibat ketidaktahuan tentang seks.”
• “Memasukkan ‘sex education’ dalam pendidikan agama (seperti pada pendidikan agama katolik kelas 2), sehingga bisa mengantisipasi ketidaktahuan siswa dan resiko yang mungkin saja ditimbulkan.”
• “Saya ingin tahu lebih banyak tentang kehamilan pra-nikah dan penyakit alat kelamin (selain dar HIV/AIDS)”
• “Bisakah di Indonesia (Kurikulum Pendidikan di INA) dimasukkan pendidikan seks sebagai salah satu suplemen pendamping/pendukung biologi dan penjakses.”
• “Kami (anak-anak remaja) perlu penyuluhan tentang seks bebas.”
Laki-laki 15-16; Sekolah Negeri
• “Kami sebagai generasi muda merasa kurang dalam penyebaran wawasan kesehatan reproduksi. Pemerintah harus camkan hal it. Demi kepentingan kelanjutan bangsa ini.”
• “Bagaimana menyiapkan diri saya untuk mencapai tujuan hidup. Jati diri sesuai dengan apa yang ingin saya capai, setidaknya mencapai kehidupan yang sesuai dengan Islam: - ‘Apa bila baik wanita, maka baik keluarganya,
73
apabila baik keluarganya baik pula masyarakatnya, dan bila baik masyarakat maka pula negaranya.’”
• “Menurut saya, kita membutuhkan pendidikan Seks sejak dini/remaja. Tujuannya bukan mengajari remaja untuk langsung melakukannya terlalu dini, tetapi untuk mencegah agar remaja tidak melakukan hal-hal yang menyimpang.”
• “Mebangun Indonesia sebagai sebuah bangsa yang bersatu, berdaulat dan makmur.”
Laik-laki 16 – 19; Sekolah Katolik
• “Saya ingin memahami lebih dalam tentang penggunaan alat kontrasepsi dan tentang pencegahan narkoba.”
• “Seksual dan pertanggung jawaban itu harus benar-benar dipertanggung jawaban yang berat. Ada pepatah mengatakan ‘berani berbuat berani bertanggung jawab’.”
• “Bagaimana caranya mencegah penyimpangan sex bebas?”
• “Saya ingin tahu lebih banyak tentang bahayanya narkoba dan minuman keras.”
Perempuan 16-19; Sekolah Katolik
• “Lebih banyak datang ke anak-anak SMA dan SMP karena merekalah yang paling diwaspadai.”
74
• “Masih harus digalakan kegiatan-kegiatan penyuluhan kepada para pelajar tentang reproduksi dan resikonya.
• “Bagaimana caranya agar para remaja tidak melakukan sentuhan badan?? (sex bebas?)”
Laki-laki 16-17; Sekolah Kristen
• “Bagaimana cara pengendalian seks bebas?”
• “Bagaimana cara-cara berhubungan sehingga diharapkan dapat mengurangi terjadinya seks bebas?”
Laki-laki 16-19; Sekolah Swasta
• “Diadakan workshop tentang reproduksi sehat dan perilaku seksual beresiko.”
• “Bagaimana kalau sekolah kami didatangi dan diberi informasi lebih dalam tentang alat reproduksi dan alat kontrasepsi supaya bisa mengerti akan HIV/AIDS lebih dini.”
• “Menurut saya pelajaran tentang sex harus diberikan pada sekolah setingkat SMU dan sederayat agar dapat mengetahui bahaya dan cara penggulangannya.”
Perempuan 16-19; Sekolah Swasta
• “Kalau biar di sekolah-sekolah diadakan penyuluhan tentang ‘reproduksi’ agar para siswa dapat mengetahui lebih banyak tentang reproduksi sehat.
75
Sebaiknya ini tidak hanya datang dari pelajaran tapi dari organisasi pemerintah juga mengungjungi sekolah-sekolah.”
• “Bagaimana masalah nikah dibawa umur, da dampak-dampak mengenai ketidaktahuan masalah reproduksi sehat dan semacamnya.”
• “Saya ingin tahu lebih banyak tentang akibat perilaku seksual beresiko dan pencegahannya.”
• “Sebaiknya mengadakan praktek langsung tentang cara pencegahan penyakit HIV/AIDS.”
• “Melakukan dialog untuk saling bertukar pendapat karena remaja saat ini sangat perlu mendpatkan pengetahuan tentang perilaku seksual dan reproduksi bertanggung jawab.”
• “Apakah Anda sudah pernah tes kehamilan?”
Laki-laki 16-19; Sekolah Islam
• “Saya ingin masyarakat lebih menerangkan dengan jelas tentang resiko dan manfaat seks dan dapat memberikan contoh yang baik.”
• “Saya ingin lebih mengenal isu-isu seks seperti ini.”
• “Bagaimana cara pencegahan sex bebas?”
• “Pencegahan penyakit menular yang disebabkan oleh HIV/AIDS yang diakibatkan oleh seks maupun faktor yang lain harus lebih diperhatikan.”
• “Akibat perilaku seksual beresiko adalah makin banyaknya penyakit seperti HIV makna dari itu orang harus selalu menggunakan alat kontrasepsi agar terhindar.”
76
• “Sebaiknya diadakan penyuluhan tentang bahayanya HIV/AIDS dan tentang bahaya narkoba.”
• “Bagaimana cara mensosialisasikan pendidikan seks ini pada remaja pada saat ini sedangkan para orangtua malu memberikan pendidikan seks pada anaknya.”
• “Bagaimana menjadikan pelajaran seks sebagai mata pelajaran di sekolah, sehingga siswa-siswi dapat mencegah seks sedini mungkin.”
• “a) Melarang peredaran VCD porno. b) jangan sekali-kali bermain seks sembarang. c) Pakailah alat kontrasepsi sebelum melakukan seks bebas.”
Perempuan 16-19; Sekolah Islam
• “Bagaimana cara mencegah perilaku seks beresiko?”
• “Apa yang harus dilakukan oleh penderita HIV agar dia dapat sembuh dari penyakit berbahaya itu?”
• “Bagaimana hukuman yang diberikan pemerintah untuk menangani masalah seks?”
• “Bagaimana cara mengatasi masalah seks sebelum nikah (seperti kehamilan pra-nikah)?”
• “Penjelasan tentang HIV/AIDS – saya belum begitu paham tentang gejala dan akibatnya. Saya ingin mengetahuinya lebih dalam tapi tidak tahu harus tanya kemana.”
• “Sejauh mana sih seharusnya remaja berpacaran?” 77
• “Bagaimana apabila kita mendapat pengetahuan seksual secara mendalam yang dapat menghindari kita dari penyimpangan seksual?”
• “Adanya suatu organisasi yang memberikan informasi sedikit tentang seks dan akibatnya? – Penyulhan seks bebas dan pergaulan bebas antar remaja.”
78
Lampiran 8: Surat-surat Izin
79

Posted by Nasrulloh on 13.38.00. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response