|

Macam-macam Perikatan

A. Pendahuluan.
Dalam hukum perikatan dikenal beberapa macam perikatan. Macam-macam perikatan ada yang didasarkan pada KUH Perdata, ada pula yang didasarkan pada doktrin Ilmu Pengetahuan Hukum Perdata. Namun yang akan
dibahas dalam bab ini yaitu macam-macam perikatan yang lazim ada dalam masyarakat. Dalam arti bahwa ada macam perikatan lain selain yang dibahas dalam bab ini. Penulis hanya mengkhususkan diri pada macam-acam perikatan
yang lazim ada dalam masyarakat saat ini.

B. Perikatan Perdata dan Perikatan Wajar/Alamiah
Perikatan Perdata adalah perikatan yang pemenuhan prestasinya dapat
digugat dimuka Pengadilan dalam arti dapat dimintakan bantuan hukum untuk
pelaksanaannya. Sedangkan perikatan wajar/alamiah adalah perikatan yang
pemenuhan prestasinya tidak dapat digugat dimuka pengadilan, jadi tanpa
gugat (ada schuld tanpa haftung). Pasal 1359 KUH Perdata pada perikatan
alamiah, sekail orang melunasi perikatan alamiah secara suka rela maka uang
pelunasan itu tidak dapat dituntut kembali. Sifat tidak ada gugatan hukum ini
dapat disimpulkan dari ketentuan Pasal 1359 ayat 2 KUH Perdata yang
menyatakan bahwa ”terhadap perikatan bebas yang secara sukarela telah
dipenuhi tidak dapat dituntut kembali”. Jadi, ketentuan pasal ini tidak
memberikan hak menagih kembali terhadap pemenuhan perikatan wajar dan
ini diakui bahwa perikatan wajar harus dianggap secara yuridis mengandung
kewajiban untuk dipenuhi sekalipun tiak disertai sanksi. Dari ketentuan pasal
ini dapat disimpulkan bahwa yang dimakud dengan perikatan wajar adalah
perikatan tanpa gugatan. Perikatan wajar dapat bersumber dari undang-undang
dan kesusilaan dan kepatutan.
Bersumber dari undang-undang cotohnya :
- Pinjaman yang tidak diminta bunganya (Pasal 1766 KUH Perdata), jika
bunganya dibayar ia tidak dapat dituntut pengembaliannya.
- Perjudihan dan Pertaruhan (Pasal 1788 KUH Perdata), undang-undang
tidak memberikan tuntutan hukum atas suatu hutang yang terjadi karena
perjudian dan pertaruhan.
- Lampau waktu, segala tuntutan hukum yang bersifat kebendaan maupun
perorangan hapus karena daluwarsa dengan lewatnya tenggang 30 tahun.
- Kepailitan dalam peraturan kepailitan.
Bersumber dari kesusilaan dan kepatutan contohnya :
- Orang kaya yang memberi uang kepada orang miskin, yang menolongnya
ketika tenggelam di sungai.
- Memberi sokongan kepada keluarga miskin, yang menurut undang-undang
tiak ada kewajibannya.
- Memberikan jaminan pensiun hari tua kepada pekerja tua yang telah
bertahun-tahun membantu dengan setia dan jujur.
- Suami memberikan nafkah yang sepatutnya kepada jandanya yang
ditinggalkan.

C. Perikatan Positif dan Negatif
Perikatan positif adalah perikatan yang isinya mewajibkan debitur
untuk berbuat atau melakukan sesuatu sedangkan perikatan yang negatif
adalah perikatan yang melarang orang berbuat sesuatu atau mewajibkan
debitur untuk membiarkan sesuatu berlangsung (perikatan untuk tidak berbuat
sesuatu).

D. Perikatan yang dapat dibagi-bagi dan Perikatan yang tidak dapat dibagibagi.
Perikatan yang dapat dibagi-bagi ialah perikatan yang prestasinya
dapat dibagi-bagi. Sedangkan perikatan yang tidak dapat dibagi-bagi adalah
perikatan yang prestasinya tidak dapat dibagi-bagi. Pasal 1299 KUH Perdata
menentukan bahwa jika hanya ada satu debitur atau satu kreditur prestasinya
harus dilaksanakan sekaligus, walaupun prestasinya dapat dibagi-bagi. Baru
akan timbul persoalan jika para pihak atau salah satu pihak dan pada perikatan
terdiri lebih dari satu subyek. Hal ii dapat terjadi jika debitur atau krediturnya
meninggal dan mempunyai ahli waris lebih dari satu. Dapat juga terjadi jika
sejak semula pada salah satu pihak sudah terdapat lebih dari satu subyek. Jika
perikatan dapat dibagi-bagi, maka akibatnya adalah bahwa setiap debitur
hanya dapat dituntut atau setiap kreditur hanya dapat menuntut bagiannya
sendiri. Sedangkan akibat daripada perikatan yang tidak dapat dibagi-bagi
adalah kreditur dapat menuntut terhadap setiap debitur atas keseluruhan
prestasi atau debitur dapat memenuhi seluruh prestasi kepada salah seorang
kreditur dengan pengertian bahwa pemenuhan prestasi menghapuskan
perikatan.
A berkewajiban menyerahkan rumah kepada B. Ternyata A meninggal dan
meninggalkan tiga orang ahli waris. Dengan demikian ketiga orang ahli waris
tersebut merupakan debitur-debitur dari pada B dan karenanya B berhak
menuntut penyerahan rumah tersebut dari salah seorang ahli waris. Jika
sebaliknya B yang meninggal dan mempunyai tiga orang ahli waris maka
mereka merupakan kreditur-kreditur terhadap A dan A dapat memenuhi
prestasinya kepada salah seorang kreditur tersebut.
Prestasi yang tidak dapat dibagi-bagi dibedakan menjadi dua yaitu :
- Menurut sifatnya.
Menurut Pasal 1296 KUH Perdata, perikatan tidak dapat dibagi-bagi jika
objek daripada perikatan tersebut yang berupa penyerahan sesuatu barang
atau perbuatan dalam pelaksanaannya tidak dapat dibagi-bagi baik secara
nyata maupun secara perhitungan. Misalnya kewajiban untuk tidak main
musik selama satu minggu telah dilanggar, jika alam tenggang waktu
tersebut yang bersangkutan telah main piano walaupun hanya untuk waktu
satu jam saja.
- Menurut tujuan para pihak.
Menurut tujuannya perikatan adalah tidak dapat dibagi-bagi jika maksud
para pihak adalah prestasinya harus dilaksanakan sepenuhnya sekalipun
sebenarnya perikatan tersebut dapat dibagi-bagi. Perikatan untuk
menyerahkan hak milik sesuatu benda menurut tujuannya tidak dapat
dibagi-bagi, sekalipun menurut sifat prestasinya dapat dibagi-bagi.

E. Perikatan Principal dan Perikatan Accessoir
Perikatan principal adalah perikatan pokok. Perikatan assesoir adalah
perikatan yang tambahan. Apabila seorang debitur atau lebih terikat
sedemikian rupa sehingga perikatan yang satusampai batas tertentu tergantung
kepada perikatan yang lain, maka perikatan yang pertama disebut perikatan
pokok sedangkan yang lainnya perikatan asessoir. Misalnya perikatan utang
dengan jaminan fidusia. Perikatan utang piutangnya adalah perikatan principal
dan perikatan fidusia adalah perikatan assesoir. Jika perikatan utang
piutangnya lunas maka perikatan fidusianya turut lunas.

F. Perikatan Spesifik dan Perikatan Generik.
Perikatan spesifik adalah perikatan yang prestasinya ditentukan satu
per satu (terperinci). Misalnya : kewajiban untuk menyerahkan rumah tertentu
yang telah ditunjuk. Sedangkan Perikatan generik adalah perikatan yang
prestasinya ditentukan menurut jenisnya. Misalnya : kewajiban menyerahkan
100 kg gula pasir.
Arti penting perbedaan antara perikatan generik dan spesifik adalah dalam hal:
- Risiko.
Pada perikatan spesifik sejak terjadinya perikatan barangnya menjadi
tanggungan kreditur. Jadi jika bendanya musnah karena keadaan
memaksa, maka debitur bebas dari kewajibannya untuk berprestasi (pasal
1237 dan 1444 BW). Risiko pada perikatan generik ditanggug oleh
debitur. Jadi jika barang yang ditentukan menurut jenisnya musnah karena
keadaan memaksa, debitur harus menggantinya dengan barang yang
sejenis. Mengenai risiko jual beli barang spesipik dan generik diatur dalam
Pasal 1460 dan 1461 BW.
- Tempat pembayaran
Pasal 1393 KUH Perdata menentukan bahwa jika dalam persetujuan tidak
ditetapkan tempat pembayaran, maka pemenuhan prestasi mengenai
barang tertentu harus dilaksanakan di tempat dimana barang tersebut
berada sewaktu persetujuan dibuat. Pembayaran mengenai barang-barang
generik harus dilakukan di tempat kreditur.

G. Perikatan Alternatif dan Perikatan Fakultatif
Perikatan alternatif adalah suatu perikatan dimana debitur
berkewajiban melaksanakan satu dari dua atau lebih prestasi yang dipilih baik
menurut pilihan debitur, kreditur atau pihak ketiga, dengan pengertian bahwa
pelaksanaan daripada salah satu prestasi mengakhiri perikatan.
Menurut Pasal 1272 KUH Perdata dalam perikatan alternatif debitur bebas
dari kewajibannya, jika ia menyerahkan salah satu dari dua barang yang
disebutkan dalam perikatan. Misalnya A harus menyerahkan kuda atau
sapinya kepada B. Jadi prestasi dari perikatan alternatif dapat berupa memberi,
berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Selain itu barangnya dapat ditentukan
secara terperinci atau menurut jenisnya. Tidak disyaratkan bahwa prestasi
yang harus dipilih menyangkut barang yang berlainan. Dapat saja terjadi
bahwa barang yang harus dipilih itu adalah barang yang sama akan tetapi
dengan syarat yang berlainan, misalnya harus menyerahkan beras Cianjur
sebanyak 100 kg dalam waktu satu bulan atau 120 kg setelah tiga bulan.
Perikatan Fakultatif adalah suatu perikatan yang obyeknya hanya berupa
prestasi dimana debitur dapat menggantikan dengan prestasi lain.
Perbedaan antara perikatan alternatif dan perikatan fakultatif yaitu :

- Pada perikatan alternatif ada dua benda yang sejajar dan debitur harus
menyerahkan salah satu dari dua benda itu. Sedangkan pada perikatan
fakultatif hanya satu benda saja yang menjadi prestasi.
- Pada perutangan alternatif jika benda yang satu lenyap, benda yang lain
menjadi penggantinya. Sedangkan pada perikatan fakultatif jika bendanya
binasa perutangannya menjadi lenyap.

H. Perikatan Solider atau Tanggung renteg.
Suatu perikatan adalah solider atau tanggung renteng jika berdasarkan
kehendak para pihak atau ketentuan UU :
- Setiap kreditur dari dua atau lebih kreditur-kreditur dapat menuntut
keseluruhan prestasi dari debitur dengan pengertian pemenuhan terhadap
seorang kreditur membebaskan debitur dari kreditur-kreditur lainnya
(tanggung renteng aktif).
- Setiap debitur dari dua atau lebih debitur-debitur berkewajiban terhadap
kreditur atas keseluruhan prestasi. Dengan dipenuhinya prestasi oleh salah
seorang debitur, membebaskan debitur-debitur lainnya (tanggung renteng
pasif).
Yang sering dijumpai adalah perikatan tanggung renteng pasif, karena
perikatan tenggung renteng aktif mengandung kelemahan yaitu jika
prestasinya diterima oleh salah seorang kreditur dan kreditur tersebut tidak
mengadakan perhitungan terhadap kreditur-kreditur lainnya, sedangkan ia
adalah tidak mampu maka kreditur-kreditur lainnya akan dirugikan.
Sekalipun perikatan tanggung renteng mirip dengan perikatan tidak dapat
dibagi-bagi, namun ada perbedaannya. Perikatan yang tidak dapat dibagi-bagi
merupakan akibat langsung daripada obyek perikatan. Sebaliknya perikatan
tanggung renteng terjadi karena UU atau kehendak para pihak dengan tujuan
untuk lebih menjamin atau memudahkan kreditur atau debitur. Perbedaan di
atas membawa pula perbedaan dalam akibatnya. Pada perikatan yang tidak
dapat dibagi-bagi selaipun subyek-subyeknya diperluas karena pewarisan akan
tetapi para ahli waris dari pada salah seorang kreditur atau debitur masing38
masing berkewajiban atau berhak atas keseluruhan prestasi. Lain halnya
dengan perikatan solider atau perikatan tanggung renteng, dimana seluruh ahli
waris bersama-sama menggantikan kreditur atau debitur, dengan pengertian
masing-masing ahli waris berkewajiban atau berhak untuk bagiannya masingmasing
dalam menggantikan kedudukan pewaris.

I. Perikatan Dengan Ancaman Hukuman
Menurut ketentuan Pasal 1304 BW, anacaman hukuman adalah untuk
melakukan sesuatu apabila perikatan tidak dipenuhi, sedangkan penetapan
hukuman itu adalah sebagai ganti kerugian karena tidak dipenuhinya prestasi
(Pasal 1307 BW).

J. Perikatan yang Sederhana dan Perikatan yang Berlipat Ganda.
Perikatan yang sederhana adalah perikatan yang prestasinya terdiri dari
satu prestasi. Pada perikatan sederhana kewajiban yang harus ditunaikan oleh
debitur adalah adalah suatu kewajiban tertentu saja dan kreditur berhak untuk
menolak kalau debitur memberikan prestasi yang lain yang bukan
diperjanjikan. Contohnya : pinjam pakai, kewajiban debitur adalah
mengembalikan barang tertentu yang dipinjam. Naun kreditur tidak wajib
untuk menerima (merasa puas) dengan pengembalian barang yang sejenis
sekalipun nilainya sama atau bahkan lebih tinggi.
Perikatan yang berlipat ganda adalah perikatan yang terdiri dari beberapa
prestasi. Pemenuhan dari satu prestasi belum membebaskan debitur dari
kewajibannya yang lain. Contoh : pada perjanjian jual beli timbul banyak
perikatan dan karenanya ada beberapa kewajiban yang harus dipenuhi oleh
penjual. Perikatan yang muncul adalah (1) penjual berkewajiban untuk
menyerahkan barangnya (2) selama belum diserahkan, memeliharanya
dengan baik, (3) penjual harus menanggung barang tersebut bebas dari sitaan
dan beban-beban. Dengan penyerahan objek jual beli saja belum
membebaskan penjual dari kewajiban untuk menjamin.

K. Perikatan yang Sepintas dan Perikatan yang Terus Menerus.(berlanjut).
Perikatan yang sepintas adalah perikatan yang pemenuhan prestasinya
hanya dilakukan dengan satu kali saja dalam waktu yang singkat. Umur
perikatannya hanya pendek saja. Misalnya penyerahan barang dalam jual beli.
Sedangkan Perikatan yang terus menerus (berlanjut) yang pemenuhan
prestasinya dilakukan dengan terus menerus berkelanjutan dalam waktu yang
panjang, misalnya sewa menyewa, perjanjian perburuhan, dll.

L. Perikatan yang Murni
Perikatan murni adalah perikatan yang prestasinya dapat dipenuhi pada
saat itu juga.

M. Perikatan Bersyarat dan Perikatan dengan Ketentuan Waktu
Perikatan bersyarat adalah perikatan yang pemenuhan prestasinya
digantungkan pada syarat tertentu. Berikatan bersyarat diatur dalam Buku III
Bab bagian V yang meliputi Pasal 1253 s/d Pasal 1267 KUH Perdata. Suatu
perikatan adalah bersyarat jika berlakunya atau hapusnya perikatan tersebut
berdasarkan persetujuan digantungkan kepada terjadiya atau tidaknya suatu
peristiwa yang akan datang yang belum tentu terjadi. Dalam menentukan
apakah syarat tersebut pasti terjadi atau tidak harus didasrkan kepada
pengalaman manusia pada umumnya.
Menurut ketentuan Pasal 1253 KUH Perdata bahwa perikatan
bersyarat dapat digolongkan ke dalam : perikatan bersyarat menangguhkan
dan perikatan bersyarat yang menghapuskan.
Pada perikatan besyarat yang menangguhkan perikatan baru berlaku
setelah syaratnya dipenuhi, Misanya : A akan menjual rumahnya jika A naik
jabatan jadi direktur. Jika syarat tersebut dipenuhi (A menjadi direktur) maka
persetujuan jual beli mulai berlaku. Jadi A harus menyerahkan rumahnya dan
B membayar harganya. Jika syarat belum dipenuhi maka kreditur tidak dapat
menuntut pemenuhan dan debitur tidak wajib memenuhi prestasi. Jika debitur
memenuhi prestasinya sebelum syarat dipenuhi maka terjadi pembayaran tidak
terutang dan debitur dapat menuntut pengembaliannya.
Mengenai risiko pada perikatan bersyarat diatur dalam Pasal 1264
KUH Perdata dimana menurut ayat 2 nya, jika barangnya musnah di luar
kesalahan debitur kedua belah pihak dibebaskan dari kewajibannya masingmasing.
Sedangkan dalam ayat 3 nya, ditentukan bahwa jika barangnya
merosot harganya bukan dikarenakan kesalahan debitur maka kreditur dapat
memilih membatalkan perikatan atau menuntut penyerahan barangnya tanpa
mendapat pengurangan harga yang telah diperjanjikan.
Pada perikatan bersyarat yang menghapuskan, perikatan hapus jika
syaratnya dipenuhi. Jika perikatan telah dilaksanakan seluruhnya atau
sebagaian maka dengan dipenuhi syarat perikatan maka : (1) keadaan akan
dikembalikan seperti semula seolah-olah tidak terjadi perikatan, (2) hapusnya
perikatan untuk waktu selanjutnya.
Sedangkan Perikatan dengan ketentuan waktu adalah perikatan yang
pemenuhan prestasinya digantungkan pada waktu yang tertentu. Perikatan ini
diatur dalam Buku III Bab I bagian 6 meliputi Pasal 1268 s/d 1271 KUH
Perdata. Perikatan dengan ketentuan waktu adalah perikatan yang berlaku atau
hapusnya digantungkan kepada waktu atau peristiwa tertentu yang akan terjadi
dan pasti terjadi. Waktu dan peristiwa yang telah ditentukan dalam perikatan
dengan ketentuan waktu itu pasti terjadi sekalipun belum diketahui bila akan
terjadi. Ada kalanya telah ditentukan waktunya secara pasti, misalnya
penyerahan barang pada tanggal 8 Desember 2008. Tetapi mungkin juga
penentuan waktunya tidak pasti, misalnya matinya A. Dalam hal ini
peristiwanya pasti terjadi, namun tidak diketahui kapan saatnya. Pada
umumnya jika peristiwanya belum tentu terjadi maka ini termasuk ke dalam
perikatan bersyarat. Ada kemungkinan bahwa yang dimaksud oleh para pihak
adalah perikatan dengan ketentuan waktu sekalipun perumusannya
menunjukan kepada perikatan bersyarat. Misalnya akan dibayar pada saat A
menjadi dewasa. Ini merupakan perikatan bersyarat, karena belum tentu jika A
menjadi dewasa, sebab mungkin ia akan mati sebelum dewasa. Tetapi
mungkin sekali maksud para pihak hanya untuk menunjukan waktu 21 tahun
terhitung sejak kelahiran A, maka dalam hal ini harus dianggap sebagai
perikatan dengan ketentuan waktu.
Dalam menentukan apakah sesuatu itu merupakan syarat atau
ketentuan waktu harus melihat maksud dari para pihak.
Perikatan dengan ketentuan waktu dapat dibagi lagi menjadi dua yaitu: ketentuan waktu yang menangguhkan dan ketentuan waktu yang
menghapuskan.
Perikatan dengan ketentuan waktu yang menangguhkan diatur secara
umum dalam Pasal 1268 s/d 1271 KUH Perdata. Perikatan dengan ketentuan
waktu yang menangguhkan artinya bahwa perikatannya sudah ada hanya
pelaksanaannya ditunda. Debitur tidak wajib memenuhi prestasinya sebelum
waktunya tiba, akan tetapi jika debitur memenuhi prestasinya maka ia tidak
dapat menuntut kembali. Akibat hukum dari perikatan dengan ketentuan
waktu yang menunda adalah berbeda menurut tujuannya. Pasal 1270 KUH
menentukan debitur berhak membayar sebelum hari jatuhnya. Atau dengan
kata lain kreditur tidak dapat menagih sebelum waktunya maupun menolak
pembayaran.
Mengenai ketentuan waktu yang menghapuskan tidak diatur oleh
masing-masing secara umum. Memegang peranan terutama dalam perikatanperikatan
yang berkelanjutan misalnyab Pasal 1570 dan Pasal 1646 sub 1
KUH Perdata. Dengan dipenuhi ketentuan waktunya maka perikatan menjadi
hapus. Misalnya seorang buruh yang mengadakan ikatan kerja selama setahun.
Setelah lewat setahun buruh tersebut tidak mempunyai kewajian untuk bekerja
lagi.
Perikatan dengan ketentuan waktu yang menghapuskan tidak berlaku
surut. Jika waktunya telah dipenuhi maka debitur tidak lagi terikat, akan tetapi
prestasinya pada waktu yang lalu tidak perlu dikembalikan.

N. Penutup
Setelah mahasiswa mempelajari materi pada bab ini, maka mahasiswa
diharapkan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini :
1. Jelaskan dan berikan contoh perikatan perdata dan perikatan wajar atau
alamiah.
2. Jelaskan dan berikan contoh perikatan positif dan perikatan negatif.
3. Jelaskan dan berikan contoh perikatan yang dapat dibagi-bagi dan perikatan
yang tidak dapat dibagi-bagi.
4. Jelaskan dan berikan contoh perikatan principal dan perikatan accessoir.
5. Jelaskan dan berikan contoh perikatan spesifik dan perikatan generik.
6. Jelaskan dan berikan contoh perikatan alternatif dan perikatan fakultatif.
7. Jelaskan dan berikan contoh perikatan solider dan perikatan tanggung-renteng.
8. Jelaskan dan berikan contoh perikatan dengan ancaman hukuman.
9. Jelaskan dan berikan contoh perikatan yang sederhana dan perikatan yang
berlipat ganda.
10. Jelaskan dan berikan contoh perikatan sepintas dan perikatan yang terus
menerus (berlanjut).
11. Jelaskan dan berikan contoh perikatan murni.
12. Jelaskan dan berikan contoh perikatan bersyarat dan perikatan dengan
ketentuan waktu.

Posted by Nasrulloh on 13.59.00. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response